Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Cerminan hati tertuang lidah

  Episode 9: Suara dan Senyap LAIL - Sungai Raya Senin pagi, Lail datang ke sekolah lebih awal dari biasa. Dia ingin ke perpustakaan—meminjam buku tentang teknik menulis. Setelah gagal lomba kemarin, dia berjanji akan belajar lebih serius. Tapi di depan perpustakaan, dia mendengar suara familiar—Khadijah, ketua Rohis yang pernah mengoreksi jilbabnya di depan umum. Khadijah sedang ngobrol dengan dua anak perempuan lain. Suaranya keras, cepat, tanpa jeda. "...terus aku gak suka sama Bu Siti itu. Dia ngajarnya gak enak. Monoton. Dia tuh sok pinter, padahal jelasinnya gak jelas!" "Emang Bu Siti sok pinter gimana sih?" tanya salah satu temannya. Khadijah terdiam sebentar, seperti bingung. "Ya... pokoknya sok pinter aja! Kelihatan kok dari caranya ngomong! Terus kemarin aku juga sebel sama Lina—dia tuh suka nyerocos. Berisik! Dia tuh sok eksis, padahal gak ada yang peduli sama dia!" "Eksis ?" "Ya pokoknya dia bikin aku kesel aja gitu! Ga...

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Dusta dan boros buat kepala pusing selalu

  Episode 7: Sisa dan Retak LAIL - Sungai Raya Jumat sore, Lail dapat uang jajan mingguan dari ayahnya—dua puluh ribu rupiah. Tidak banyak, tapi cukup untuk seminggu jajan di sekolah. "Jangan dihabiskan hari ini ya," kata ayahnya sambil menyerahkan uang. "Ini buat seminggu." "Iya, Yah." Tapi sore itu, Dina mengajak Lail dan Zahra ke pasar malam yang baru buka di lapangan kampung sebelah. Ada mainan, ada jajanan, ada lampu-lampu warna-warni. "Yuk, Lail! Kita jajan di sana!" ajak Dina dengan mata berbinar. "Aku cuma punya dua puluh ribu," kata Lail ragu. "Ini buat seminggu." "Ah, gapapa! Sekali-kali lah. Pasar malam kan jarang ada," Zahra ikut membujuk. Lail akhirnya ikut. Di pasar malam, dia beli cilok lima ribu, es teh tiga ribu, terus lihat ikat rambut lucu lima ribu. Dia ingat episode kemarin—dia sudah berjanji tidak beli barang yang tidak perlu. Tapi Dina bilang, "Lucu banget itu! Beli deh!" ...

Terburu-buru kawan lama malas

  Episode 6: Detik berlalu dan Langkah Berburu LAIL - Sungai Raya Subuh. Suara adzan berkumandang dari masjid kampung yang jaraknya tidak jauh dari rumah Lail. Tapi Lail tidak bangun. Ayahnya mengetuk pintu kamar. "Lail, subuh." Lail bergumam, membalikkan badan. "Sebentar, Yah..." Lima menit kemudian, ayahnya mengetuk lagi. "Lail, keburu lewat." "Iya, Yah..." Tapi Lail tetap tidak bangun. Matanya berat. Selimut hangat. Udara dingin pagi hari membuatnya malas bergerak. Lima belas menit kemudian, ayahnya masuk ke kamar, menyalakan lampu. "Lail, bangun. Subuh udah mau habis." Lail akhirnya membuka mata, duduk dengan wajah kusut. "Iya, Yah. Maaf." Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah terseret. Wudhu dengan mata setengah terbuka. Shalat dengan gerakan cepat—pikiran masih setengah tidur. Selesai shalat, dia langsung kembali tidur. Pagi itu, Lail bangun kesiangan. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Sekolah...

Sadari dan ikuti kebenaran, jangan bayangan

  Episode 5: Bayangan dan Pantulan LAIL - Sungai Raya Senin pagi, pengumuman ranking kelas ditempel di papan pengumuman. Anak-anak berkerumun, mencari nama mereka di daftar. Lail berdiri agak jauh, menunggu kerumunan mereda. Dia tidak terlalu peduli ranking—yang penting nilainya naik dari semester lalu. "Lail! Kamu ranking lima!" teriak Dina, teman sebangkunya, sambil berlari menghampiri. Lail tersenyum kecil. "Alhamdulillah." "Aku ranking sepuluh," kata Dina sambil tertawa. "Lumayan lah, naik dari kemarin." Mereka berjalan kembali ke kelas bersama. Di depan kelas, Aisyah berdiri dengan wajah datar—tidak senyum, tidak sedih, hanya... datar. "Ranking berapa, Syah?" tanya Dina. "Dua belas," jawab Aisyah pendek. Dina dan Lail masuk ke kelas duluan. Aisyah berdiri sebentar di luar, menatap papan pengumuman dari kejauhan. Istirahat pertama, Lail ke kantin bersama Dina. Mereka beli gorengan dan es teh. Saat kembali ke ...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...