Langsung ke konten utama

Cerminan hati tertuang lidah

 

Episode 9: Suara dan Senyap


LAIL - Sungai Raya

Senin pagi, Lail datang ke sekolah lebih awal dari biasa. Dia ingin ke perpustakaan—meminjam buku tentang teknik menulis. Setelah gagal lomba kemarin, dia berjanji akan belajar lebih serius.

Tapi di depan perpustakaan, dia mendengar suara familiar—Khadijah, ketua Rohis yang pernah mengoreksi jilbabnya di depan umum.

Khadijah sedang ngobrol dengan dua anak perempuan lain. Suaranya keras, cepat, tanpa jeda.

"...terus aku gak suka sama Bu Siti itu. Dia ngajarnya gak enak. Monoton. Dia tuh sok pinter, padahal jelasinnya gak jelas!"

"Emang Bu Siti sok pinter gimana sih?" tanya salah satu temannya.

Khadijah terdiam sebentar, seperti bingung. "Ya... pokoknya sok pinter aja! Kelihatan kok dari caranya ngomong! Terus kemarin aku juga sebel sama Lina—dia tuh suka nyerocos. Berisik! Dia tuh sok eksis, padahal gak ada yang peduli sama dia!"

"Eksis ?"

"Ya pokoknya dia bikin aku kesel aja gitu! Gak jelas orangnya!"

Khadijah terus bicara—tentang guru yang tidak dia suka karena "sok cantik", kakak kelasnya yang "sok jago", adik kelasnya yang "gak sopan tapi gak tahu kenapa gak sopan". Semuanya ada labelnya, tapi tidak ada penjelasan nyata untuk alasannya.

Lail berdiri di pojok, mendengarkan tanpa sengaja.

Dia bilang Bu Siti sok pinter, tapi gak bisa jelasin kenapa. Dia bilang Lina sok eksis, tapi gak bisa jelasin kenapa..


Istirahat pertama, Lail duduk di kelas bersama Dina dan Zahra. Dina sedang cerita tentang tetangganya yang kena tilang polisi karena helm tidak dikancing—ceritanya pendek, lucu, jelas intinya.

Tiba-tiba Khadijah masuk ke kelas, langsung menghampiri mereka.

"Eh, kalian tahu gak? Aisyah itu kemarin menang lomba karya tulis kan? Aku gak suka dia. Sombong banget orangnya! Sok jago nulis!"

Lail tersentak. Aisyah memang sombong. Tapi kenapa Khadijah marah? Dia kan lebih sombong lagi.

"Kamu koq marah ke Aisyah sih?" tanya Zahra polos.

Khadijah seperti kaget ditanya. "Ya... kan dia menang lomba terus... terus dia suka pamer gitu..."

"Pamer gimana?"

"Ya pokoknya pamer aja! Keliatan kok!" Khadijah mulai tidak nyaman. "Terus kemarin aku juga kesel sama Lail—"

Lail menoleh cepat. "Aku kenapa?"

Khadijah seperti baru sadar Lail ada di situ. Wajahnya sedikit merah. "Eh... maksudnya... ya kamu kan ranking lumayan tinggi... terus... ah, udah lupa aku. Gak penting."

Dia langsung pergi, meninggalkan Lail, Dina, dan Zahra dalam kebingungan.

Dina menatap Lail. "Dia aneh banget deh. Ngomong gak jelas."


Sore itu, Lail duduk di teras rumahnya, menatap langit sore. Pikirannya penuh dengan suara Khadijah tadi—banyak bicara, banyak label: "sok pinter", "sok eksis", "sok jago", "sombong". Tapi semua label itu... hampa. Tidak ada isinya.

Inner voice-nya bergulir, pelan.

Kenapa dia bicara banyak tapi gak ada isinya? Kenapa dia kasih label ke orang, tapi gak bisa jelasin labelnya sendiri?

Lail teringat juga—Khadijah yang pernah mengoreksi jilbabnya di depan umum. Khadijah yang sombong dengan ilmu agamanya.

Apa semua ocehan itu... cuma karena emosi?


Lail ke Warung Ahmad sore itu, beli roti untuk ngemil. Pas sampai di sana, dia lihat Pak Ahmad sedang duduk di bangku kayu, ngobrol dengan Pak Soleh—petani yang dulu pernah cerita tentang sawahnya yang telat panen karena malas.

"Anak tetangga saya itu, Pak," kata Pak Soleh sambil mengipas-ngipas dirinya dengan tangan, "dari pagi sampai sore ngomong terus. Gak berhenti. Si ini sok pinter, si itu sok eksis, si itu sombong. Tapi kalau ditanya, dia gak bisa jawab. Cuma bilang, 'Ya pokoknya!' Pusing kepala saya dengernya."

Pak Ahmad tertawa kecil. "Ember bocor itu namanya."

Pak Soleh menoleh bingung. "Ember bocor?"

"Iya. Mulut yang banyak bicara tapi gak ada isinya kayak ember bocor—air dituang banyak, kelihatan penuh, tapi ujung-ujungnya kosong juga. Airnya tumpah semua."

Lail—yang tadinya mau masuk ke warung—berhenti di dekat pintu, mendengarkan.

Pak Soleh mengangguk-angguk. "Oh, bener juga ya. Tapi kenapa dia gak bisa diam aja?"

Pak Ahmad mengambil kacang yang dia beli, membukanya pelan. " Mungkin dia gak suka sama dirinya sendiri. Orang yang banyak omong itu biasanya lagi lari. Kalau diam, dia harus dengerin suara di kepalanya sendiri—dan mungkin suaranya bilang hal-hal yang dia gak mau dengar."

"Kayak apa contohnya?"

"Ya kayak... 'Kamu sebenarnya gak lebih baik dari orang yang kamu omongin.' Atau 'Kamu cuma iri.' Makanya dia ngomong terus—biar suara itu gak kedengeran."

Pak Soleh tertawa pahit. "Waduh, kasian juga ya."

"Kasian sih kasian. Tapi tetep bikin pusing orang lain," Pak Ahmad tersenyum tipis.

Lail merasakan sesuatu mengklik di kepalanya.

Khadijah bilang Aisyah sok jago nulis—padahal Aisyah baru menang lomba. Khadijah bilang aku... apa ya tadi? Dia lupa katanya. Atau dia gak berani ngomong karena aku ada di situ?

Dia bicara banyak biar gak ketemu sama suara di kepalanya sendiri. Suara yang bilang... dia iri. Dia dengki.


Lail berjalan pulang lewat sawah. Langit sore berwarna oranye keemasan. Angin bertiup pelan.

Ember bocor. Kelihatan penuh, tapi kosong.

Inner voice-nya bergulir, pelan tapi dalam.

Khadijah bicara banyak karena dia takut diam. Dia kasih label ke semua orang—sok pinter, sok eksis, sombong—tapi sebenarnya dia lagi ngomong tentang dirinya sendiri.

Lail berhenti di tengah jalan, menatap sawah yang luas.

Dia yang sok pinter dengan ilmu agamanya. Dia yang sok eksis dengan jilbab panjangnya. Dia yang sombong dengan cara dia koreksi orang di depan umum. Tapi dia gak sadar—atau gak mau sadar.

Lail membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Orang yang bicara banyak tanpa isi biasanya sedang lari dari dirinya sendiri. Dan label yang dia kasih ke orang lain—sok pinter, sok eksis, sombong—seringkali adalah cermin dari dirinya sendiri yang dia tidak mau lihat."

Lail menyimpan tulisan itu, lalu berjalan pulang.

Aku tidak ingin jadi ember bocor. Aku ingin diam kalau memang tidak ada yang perlu dikatakan.


SYAMS - Bandar Mahkota

Selasa siang, jam istirahat, Syams duduk di kantin sendirian sambil makan. Dia lagi belajar untuk ulangan besok—kali ini dia niat belajar beneran, tidak tergesa-gesa.

Tapi ketenangan itu pecah saat Rizky datang dengan gengnya—lima anak cowok yang selalu nongkrong bareng.

Mereka duduk di meja sebelah, tapi suaranya keras banget. Rizky ngomong terus—tanpa henti.



"Gue kemarin gak suka sama Farhan, tau gak? Dia tuh sok alim. Sok paling bener!"

"Sok alim gimana sih?" tanya salah satu temannya.

Rizky terdiam sebentar. "Ya... dia kan ketua Rohis... terus suka ceramahin orang..."

"Bukannya emang tugas ketua Rohis ngingetin?"

"Ah, pokoknya dia sok alim aja! Bikin ilfil gue! Terus gue juga sebel sama si Doni—dia tuh jelek banget. Muka kayak gak pernah mandi!"

Teman-temannya tertawa. Tapi ada yang tanya, "Emang kenapa jelek, muka muka dia loh Ky"

"Ya pokoknya gue gak suka aja! Gak enak diliat! Terus kemarin gue juga kesel sama guru BK—dia tuh sok bijak, padahal dia sendiri juga gak ngerti apa-apa!"

"Namanya juga guru BK Ky"

Rizky mulai kesal ditanya terus. "Ya pokoknya gue gak suka aja! Kalian banyak nanya!"

Rizky terus ngomong—tentang teman yang "sok alim", yang "jelek", yang "sok bijak", tetangga yang mobilnya "pamer", kakak kelas yang "sok populer". Semua ada labelnya, tapi semua labelnya dangkal. Gak ada penjelasan yang masuk akal.

Syams mencoba fokus ke buku, tapi suara Rizky terlalu keras. Dia menutup bukunya, bernafas panjang.

Dia ngomong terus. Ngasih label ke semua orang seperti orang yang ngerti aja.

Inner voice Syams berbisik, tajam.

Kenapa ada orang kayak gini ya, sukanya ngritik tanpa solusi.


Pulang sekolah, Syams ke kamar, hendak belajar. Tapi dari kamar sebelah—kamar Hafiz—terdengar suara keras. Hafiz lagi video call sama temannya, ngomong dengan volume maksimal.

"Bro, gue tuh gak suka banget sama Rendra! Dia tuh sok kaya, padahal bapaknya juga cuma pegawai biasa!"

Suara teman di sebelah sana "Bukannya lu juga sering pamer barang?"

"Beda! Gue punya beneran! Dia mah palsuan! Terus gue juga sebel sama guru fisika gue—sok pinter banget dia! Ngajar gak jelas!"

Syams menutup pintu kamarnya, tapi suara Hafiz tetap tembus. Dia duduk di meja belajar, menaruh kepala di meja.

Hafiz bilang Rendra sok kaya—padahal Hafiz sendiri yang suka pamer dan minta uang terus. Hafiz bilang dosen sok pinter—padahal Hafiz yang sering gak belajar terus nyalahin gurunya.

Inner voice-nya bergulir, pahit.

Dia ngomong tentang orang lain, tapi sebenarnya dia ngomong tentang dirinya sendiri.


Rabu sore, Syams ke Warung Ahmad. Dia butuh tempat tenang—rumahnya terlalu berisik dengan Hafiz yang ngomong terus.

Pas sampai di warung, Syams lihat seorang ibu-ibu sedang belanja sambil ngobrol dengan Pak Ahmad.

"Pak Ahmad, tetangga saya itu ya..." kata ibu-ibu itu sambil milih-milih sabun, "dari pagi sampai sore ngoceh terus ngomong kejelekan orang"

Pak Ahmad tersenyum sambil menghitung kembalian. "Cermin retak, Bu."

Ibu-ibu itu bingung. "Cermin retak?"

"Iya. itu kayak orang yang lagi lihat cermin retak. Yang dia lihat itu sebenarnya bayangannya sendiri yang rusak—tapi dia pikir itu orang lain."

Ibu-ibu itu tertawa kecil. "Wah, dalam juga ya Pak."

Pak Ahmad melipat plastik belanjaan ibu-ibu itu dengan rapi. "Biasanya sih, label yang dia kasih ke orang—gak sopan, gak tahu diri, sok kaya—itu sebenarnya yang dia takutin ada di dirinya sendiri. Jadi dia lempar ke orang lain, biar dia gak usah ngaca."

"Ohh... jadi dia sebenarnya yang gak sopan?"

"Bisa jadi. Atau dia takut orang lain bilang dia gak sopan. Makanya dia duluan bilang orang lain gak sopan."

Ibu-ibu itu mengangguk-angguk paham. "Pantesan. Tetangga saya itu emang suka nyerobot kalau ngantri."

Syams berdiri di pojok warung, berpura-pura lihat rak makanan. Tapi telinganya menangkap semuanya.

Cermin retak. Yang dia lihat itu bayangannya sendiri yang rusak...

Pak Ahmad menambahkan sambil mengembalikan kembalian, "Teko yang isinya racun, keluarnya racun juga, makanya isi hal yang positif aja Bu, nanti kita juga berkurang pahala"

Ibu-ibu itu pamit, lalu pergi.


Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap.

Inner voice-nya bergulir, tajam dan pahit.

Rizky bilang Farhan sok alim—padahal Rizky yang sombong dengan rankingnya. Rizky bilang Doni jelek—padahal Rizky yang suka merendahkan orang karena penampilan. Dia lihat cermin retak—yang dia lihat itu bayangannya sendiri.

Syams berhenti di depan rumahnya. Dari dalam terdengar suara Hafiz yang masih ngomong keras—entah dengan siapa.

Hafiz bilang Rendra sok kaya—padahal Hafiz yang tamak dan suka minta uang. Hafiz bilang dosen sok pinter—padahal Hafiz yang malas belajar terus nyalahin orang lain. Dia lempar labelnya ke orang lain biar gak usah ngaca.

Syams menatap tangannya.

Mereka bicara banyak untuk nutupin suara di kepala mereka sendiri. Label yang mereka kasih ke orang lain itu sebenarnya cermin dari diri mereka yang mereka gak mau lihat.

Dia masuk ke rumah, langsung ke kamar. Membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Orang yang bicara banyak dan kasih label ke orang lain tapi gak bisa jelasin kenapa, biasanya sedang lihat cermin retak. Label yang dia kasih—sok alim, sok kaya, sok pinter—seringkali adalah refleksi dari dirinya sendiri yang dia takut untuk akui."

Dia menyimpan tulisan itu.

Syams menatap jendela kamarnya. Suara Hafiz masih terdengar dari kamar sebelah—ngomong, ngomong, ngomong.

Aku tidak ingin jadi cermin retak. Aku ingin diam—dan kalau bicara, bicara tentang kebaikan, bukan kejelekan ke orang lain.

Syams tersenyum tipis—pahit, tapi ada ketenangan di sana.


[End of Episode 9]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...