Langsung ke konten utama

Ketamakan itu diprogram syaitan

 

Episode 4: Genggaman dan Kepalan


LAIL - Sungai Raya

Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan.

Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah.

Lima ribu dapat dua, pikir Lail.

Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil.

"Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah.

"Boleh liat-liat dulu, Bu."

Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil.

Ini bagus. Cocok buat ke sekolah.

Inner voice-nya berbisik pelan.

Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. Kenapa aku mau beli lagi?

Tapi tangannya tetap menggenggam jilbab itu.


Ibu Lail selesai belanja sayur, menghampiri Lail yang masih berdiri di lapak aksesoris.

"Mau beli apa?" tanya ibunya.

Lail menunjukkan ikat rambut dan jilbab di tangannya. "Ini, Bu. Murah kok. Semua cuma lima belas ribu."

Ibunya menatap barang-barang itu, lalu menatap Lail. "Kamu kan baru kemarin beli ikat rambut."

"Tapi ini warnanya beda, Bu. Yang kemarin kan biru."

"Lail," ibunya berkata lembut tapi tegas. "Kamu butuh, atau kamu mau?"

Lail terdiam.

Ibunya melanjutkan, "Ikat rambutmu di rumah udah ada lima. Jilbabmu juga masih bagus-bagus. Kenapa harus beli lagi?"

Lail menatap barang di tangannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

"Taruh lagi," kata ibunya pelan. "Nanti kalau beneran butuh, baru beli."

Lail menaruh kembali barang-barang itu ke lapak, pelan-pelan. Penjualnya tersenyum—tidak kecewa, sudah biasa.

Mereka pulang lewat jalan kampung yang berdebu. Lail berjalan di belakang ibunya, tangannya kosong, hatinya entah kenapa terasa berat.


Siang itu, Lail duduk di teras rumah, menatap kotak kecil di kamarnya yang berisi ikat rambut dan jilbab. Dia menghitung—tujuh ikat rambut, enam jilbab.

Ibu benar. Aku tidak butuh yang baru.

Inner voice-nya bergulir, pelan tapi menusuk.

Kenapa aku merasa butuh terus? Kenapa setiap kali lihat barang lucu, aku merasa harus punya? Padahal yang lama masih bagus.

Dia mengambil satu ikat rambut—yang pertama kali dia beli dengan uang tabungannya sendiri. Sudah agak luntur, tapi masih kuat.

Aku bukan barang yang kupunya. Tapi kenapa aku terus merasa… kurang?


Sore itu, Lail ke Warung Ahmad. Dia tidak beli apa-apa, hanya duduk di bangku kayu di depan warung, menatap jalanan sepi.

Pak Ahmad sedang mengepel lantai.

"Gak beli apa-apa?" tanya Pak Ahmad tanpa menoleh.

"Gak, Pak. Cuma… duduk."

Pak Ahmad selesai mengepel, lalu duduk di sebelah Lail. Dia menyalakan rokok.

Lail menatap tangannya sendiri—kosong. "Pak Ahmad, kalau… kita suka beli barang yang sebenarnya gak perlu, itu namanya apa?"

Pak Ahmad berkata. "Tamak."

Lail menoleh. "Tapi kan murah…"

"Tamak bukan soal mahal atau murah," kata Pak Ahmad datar. "Tamak itu soal nggak pernah cukup. Barang satu beli, barang dua pengen. Padahal barang satu masih bagus."

Lail terdiam.

Pak Ahmad melanjutkan sambil menatap jalanan, "Tangan yang selalu menggenggam, lama-lama capek sendiri. Tangan yang bisa melepas, itu yang ringan."


Lail berjalan pulang lewat sawah. Langit sore berwarna oranye keemasan. Angin bertiup lembut, menggerakkan padi yang mulai menguning.



Tangan yang selalu menggenggam, lama-lama capek sendiri.

Inner voice-nya berbisik, lembut.

Aku tidak butuh banyak barang untuk bahagia. Aku butuh… cukup. Dan cukup itu bukan angka. Cukup itu rasa.

Dia menatap tangannya yang kosong.

Tangan kosong bukan berarti miskin. Tangan kosong bisa berarti… puas.

Lail tersenyum kecil—senyum yang tenang.

Aku bukan apa yang kugenggam. Aku hanyalah ruh didalam tubuh..



SYAMS - Bandar Mahkota

Sabtu siang, Syams duduk di ruang tamu sambil baca buku. Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting keras dari kamar sebelah—kamar kakaknya, Hafiz.

Ibu Syams keluar dari kamar Hafiz dengan wajah lelah.

"Syams, kamu jangan berisik ya. Abangmu lagi… marah-marah lagi."

Syams mengangguk pelan. Dia sudah hapal pola ini.

Beberapa menit kemudian, Hafiz keluar dari kamar dengan wajah merah, rahang mengeras. Dia langsung ke ruang tamu, menghadap ayahnya yang sedang baca koran.

"Pa, uang sakuku kurang," kata Hafiz, langsung to the point.

Ayahnya menatapnya dari balik koran. "Kan baru kemarin dikasih."

"Abis."

"Abis buat apa?"

"Ya buat makan, jajan, nongkrong. Yang lain pada gitu juga kok."

Ayahnya menurunkan korannya. "Yang lain-yang lain. Kamu itu selalu bandingin diri sama orang lain."

Hafiz menaikkan suaranya sedikit. "Emang kenapa? Mereka bisa, kenapa aku nggak?"

"Karena rezeki tiap orang beda, Fiz."

Hafiz mengepalkan tangannya, wajahnya semakin merah. "Papa selalu gitu! Selalu ngomong rezeki-rezeki. Padahal Papa bisa aja kasih lebih!"

Ibunya mencoba menenangkan. "Hafiz, jangan gitu sama Papa…"

"Apa sih, Bu?! Aku cuma minta uang! Bukan minta yang aneh-aneh!"

Hafiz membanting pintu kamarnya lagi, keras. Suara itu bergema di seluruh rumah.

Syams duduk di sofa, memeluk bukunya. Dadanya sesak.

Lagi. Lagi dan lagi.


Malam itu, Syams tidak bisa tidur. Dia mendengar suara tangis ibunya dari kamar orang tua. Ayahnya berbicara pelan—menenangkan.


Syams menatap langit-langit kamarnya.

Inner voice-nya berbisik, dingin dan tajam.

Hafiz tidak pernah puas. Uang habis, minta lagi. Barang rusak, beli lagi. Nggak dapet yang dia mau, marah. Seolah dunia harus nurut sama dia.

Syams merasakan sesuatu yang pahit di dadanya.

Aku tinggal satu rumah sama orang yang nggak pernah cukup. Dan aku nggak bisa apa-apa.



Minggu sore, Syams ke Warung Ahmad. Dia butuh keluar dari rumah—terlalu pengap, terlalu bising dengan amarah Hafiz yang tidak pernah reda.

Pak Ahmad sedang menata rokok di rak saat Syams tiba.

"Assalamualaikum, Pak."

"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa?"

Syams menggeleng. "Nggak beli, Pak. Cuma… mau duduk."

Pak Ahmad mengangguk. Dia keluar, duduk di bangku kayu. Syams duduk di sebelahnya.

Mereka diam lama. Hanya suara angin dan sesekali motor lewat.

"Pak Ahmad," kata Syams pelan. "Kalau ada orang yang… nggak pernah cukup, itu gimana?"

Pak Ahmad menyalakan rokok. "Nggak cukup apanya?"

"Semuanya. Uang, barang, apapun. Selalu minta, selalu marah kalau nggak dapet."

Pak Ahmad bergumam. "Rakus."

Syams menatap jalanan kosong. "Itu bisa disembuhin nggak?"

Pak Ahmad diam sebentar, lalu berkata datar, "Rakus itu penyakit hati. Obatnya bukan dari luar. Obatnya dari dia sendiri—kalau dia sadar."

Syams menatap Pak Ahmad.

Pak Ahmad melanjutkan, "Tangan yang selalu menggenggam, lama-lama capek sendiri. Tangan yang bisa melepas, itu yang ringan."

Syams menatap tangannya sendiri. Kosong. Tapi entah kenapa terasa berat.


Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap, lampu jalan mulai menyala.

Tangan yang selalu menggenggam, lama-lama capek sendiri.

Inner voice-nya bergulir, pahit.

Hafiz tidak akan berhenti. Dia tidak sadar. Dia pikir dunia berutang padanya. Dia pikir marah itu cara untuk mendapat apa yang dia mau.

Syams berhenti di depan rumahnya. Lampu kamar Hafiz menyala—dia pasti lagi main game atau scrolling hape.

Aku tidak seperti dia. Aku tidak minta macam-macam. Aku tidak marah-marah. Tapi kenapa… aku merasa ikut capek?

Dia menatap tangannya yang kosong.

Mungkin karena aku tinggal di rumah yang penuh genggaman erat. Dan genggaman itu mencekik semua orang—termasuk aku.

Syams masuk ke rumah, langsung ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, menatap layar kosong.

Lalu mengetik pelan:

"Tamak bukan soal punya sedikit atau banyak. Tamak itu soal tidak pernah merasa cukup. Dan orang yang tidak pernah cukup, akan menyakiti orang di sekitarnya."

Dia menyimpan tulisan itu.

Dari kamar sebelah, terdengar suara Hafiz teriak ke game online-nya—marah karena kalah.

Syams menutup matanya.

Aku bukan apa yang kugenggam. Tapi aku terjebak di rumah yang penuh kepalan.

Tidak ada senyum. Tidak ada ketenangan. Hanya… kelelahan.


[End of Episode 4]




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...