Episode 3: Sajadah dan Mahkota
LAIL - Sungai Raya
Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut
kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh
yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang
masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat.
Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum
datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab
panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki.
Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya
tegas, sedikit keras.
"Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk
ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum
bener. Masih setengah-setengah."
Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya
sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis.
Lehernya memang kadang kelihatan kalau jilbabnya geser.
Khadijah melirik ke arah Lail sekilas, tapi tidak bilang apa-apa. Hanya
senyum tipis yang seperti menilai.
Kajian dimulai. Ustadzah Mariam datang terlambat, jadi Khadijah yang
mengisi pembukaan.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Khadijah dengan lantang. "Alhamdulillah, hari ini kita akan belajar tentang pentingnya menjaga aurat dengan sempurna. Ini adalah kewajiban bagi setiap muslimah."
Khadijah membuka buku catatannya, lalu mulai membaca dalil-dalil dengan
lancar—Arab dan terjemahannya. Hafal. Tanpa tersendat.
Lail mendengarkan dengan serius. Tapi ada yang mengganjal.
Kenapa rasanya… seperti ceramah? Bukan belajar bareng?
Khadijah melanjutkan, "Banyak muslimah sekarang yang masih lalai.
Jilbab cuma di kepala, tapi leher kelihatan. Ini belum memenuhi syarat. Belum
sah."
Beberapa anak perempuan mengangguk-angguk. Lail melirik jilbabnya
sendiri.
Apa aku termasuk yang lalai?
Khadijah menatap ke arah Lail—kali ini lebih lama. "Lail, kamu
pakai jilbab segi empat kan?"
Lail mengangguk pelan. "Iya, Kak."
"Coba ke depan. Aku ajarin cara pakai yang bener."
Lail ragu sebentar, tapi akhirnya berdiri dan maju ke depan. Khadijah
melepas jilbab Lail, lalu memakainya kembali dengan cara yang berbeda—lebih
ketat, dilipat beberapa kali di bagian leher, sampai tidak ada satu helai
rambut pun yang kelihatan.
"Nah, gini. Ini baru syar'i," kata Khadijah sambil tersenyum
puas.
Lail merasakan jilbabnya sekarang lebih berat, lebih sesak. Tapi dia
tersenyum. "Makasih, Kak."
Khadijah menepuk bahunya. "Sama-sama. Alhamdulillah, kita harus
saling mengingatkan. Aku juga dulu gitu kok, sebelum aku belajar lebih
dalam."
Inner voice Lail berbisik pelan.
Kenapa aku merasa… dikoreksi di depan semua orang? Kenapa tidak dibuat umum?
Pulang dari musholla, Lail berjalan sendirian lewat jalan kampung.
Matahari sudah condong ke barat, cahayanya kemerahan.
Jilbabnya masih dipakai dengan cara Khadijah tadi. Ketat. Rapi. Tapi
lehernya terasa gerah. Nafasnya agak sesak.
Apa ini memang cara yang benar? Atau ini cara Khadijah?
Lail berhenti sebentar, melepas jilbabnya, lalu memakainya kembali
dengan caranya sendiri—lebih longgar, lebih nyaman. Lehernya memang sedikit
kelihatan, tapi dia bisa bernafas.
Allah melihat niatku. Bukan bentuk jilbabku. Setahu aku jilbab adalah untuk melindungi, bukan menyakiti.
Sore itu, Lail mampir ke Warung Ahmad. Dia butuh beli
minum—tenggorokannya kering.
Pak Ahmad sedang menata rokok di rak saat Lail tiba.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa?"
"Teh kotak, Pak."
Pak Ahmad mengambil teh dari kulkas kecil di pojok. Lail membayar, lalu
duduk sebentar di bangku kayu di depan warung. Dia membuka tehnya, minum
pelan-pelan.
Pak Ahmad ikut duduk, memandang halaman depan warungnya.
Lail menatap jalanan yang sepi. "Pak Ahmad, kalau… ada orang yang
ngerasa lebih bener dari orang lain, itu gimana ya?"
Pak Ahmad menghembuskan asap. "Dalam hal apa?"
"Agama."
Pak Ahmad diam sebentar, lalu berkata datar, "Ilmu yang banyak
tanpa adab, kayak pohon tanpa akar. Kelihatan tinggi, tapi gampang roboh."
Lail menoleh.
Pak Ahmad melanjutkan sambil menatap jalanan, "Yang sombong sama
ilmunya, biasanya lupa siapa yang ngasih ilmu itu."
Lail berjalan pulang dengan langkah pelan. Langit sudah ungu kemerahan.
Katak-katak mulai bersuara.
Ilmu yang banyak tanpa adab, kayak pohon tanpa akar.
Inner voice-nya bergulir lembut.
Khadijah hafal banyak dalil. Tapi apa dia paham bagaimana memperlakukan
orang lain dengan lembut? Apa dia tahu bahwa mengoreksi di depan orang banyak
itu… menyakitkan?
Lail menatap jilbabnya yang sekarang sudah kembali longgar.
Aku tidak harus seperti Khadijah untuk menjadi muslimah yang baik. Aku
bisa jadi muslimah dengan caraku—dengan kelembutan,dan selalu cari ilmu.
Lail tersenyum kecil.
Ilmu bukan mahkota untuk dipamerkan. Ilmu itu amanah untuk dibagikan
dengan rendah hati.
SYAMS - Bandar Mahkota
Jumat siang, jam istirahat kedua, Syams ke masjid sekolah untuk shalat
Jumat. Masjid sekolahnya besar—dua lantai, AC, karpet tebal, mimbar kayu jati
mengkilap. Seperti masjid raya versi mini.
Saat Syams tiba, masjid sudah ramai. Anak-anak Rohis sudah stand
by—seragam putih-putih, peci hitam, bawa tasbih, wajah serius. Seperti
organisasi resmi.
Di depan pintu, Farhan—ketua Rohis—berdiri dengan mikrofon kecil di
tangan.
"Assalamualaikum, harap tertib ya masuk masjid. Wudhu yang belum
wudhu, jangan masuk dulu. Ini rumah Allah, harus dijaga kesuciannya."
Syams masuk setelah wudhu, mencari tempat duduk di barisan belakang. Dia
suka duduk di belakang—tidak terlalu kelihatan, tidak terlalu harus
berinteraksi.
Farhan berjalan mondar-mandir di depan, mengecek barisan.
"Yang shalat dhuha tadi ada berapa orang?" tanya Farhan ke
anak-anak Rohis.
"Lima belas orang, Kak," jawab salah satu anak.
Farhan mengangguk puas. "Alhamdulillah. Tapi masih kurang. Harusnya
semua laki-laki ikut shalat dhuha. Ini kan sunnah yang sangat dianjurkan."
Syams menatap dari kejauhan.
Shalat dhuha… aku belum pernah ikut.
Inner voice-nya berbisik, dingin.
Apa aku kurang baik? Apa aku kurang Muslim?
Khutbah dimulai. Khatibnya bukan guru—tapi Farhan sendiri. Dia naik
mimbar dengan percaya diri, membuka kitab, lalu mulai berkhutbah dengan suara
lantang.
Temanya: "Generasi Muda dan Tanggung Jawab Keagamaan."
Farhan berbicara dengan tegas, sesekali menunjuk ke jamaah. "Banyak
remaja sekarang yang lalai. Main hape terus. Nonton yang nggak-nggak. Shalat
aja masih bolong-bolong. Ini bahaya, saudara-saudara."
Syams mendengarkan sambil menatap lantai.
Aku juga sering bolong shalat.
Farhan melanjutkan, suaranya naik sedikit, "Kalau kita tidak
memperbaiki diri sekarang, nanti siapa yang akan jadi pemimpin umat? Kita harus
jadi generasi yang shalih, yang taat, yang beda dari yang lain."
Yang beda dari yang lain.
Syams merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dada.
Kenapa terdengar seperti… dia lebih baik dari semua orang?
Setelah shalat selesai, Syams bersiap keluar. Tapi Farhan berdiri di
depan pintu, menyapa satu per satu anak yang keluar.
"Syams," panggil Farhan saat Syams lewat.
Syams berhenti. "Iya, Kak?"
"Kamu jarang ikut kajian Rohis ya?"
"Iya, Kak. Sibuk."
Farhan tersenyum—tapi senyum yang seperti menilai. "Sibuk apaan
emang? Sekolah doang kan? Coba deh luangin waktu. Ilmu agama itu penting.
Jangan sampai kamu cuma pinter dunia, tapi akhirat kosong."
Syams mengangguk pelan. "Iya, Kak. Nanti aku coba."
"Good. Kita harus saling ngingetin," kata Farhan sambil
menepuk bahu Syams—agak keras. "Aku juga dulu gitu kok, sebelum aku sadar
dan belajar lebih serius."
Syams keluar dari masjid dengan perasaan berat.
Dia bicara seolah dia sudah baik. Seolah dia lebih dekat dengan Allah
daripada aku.
Pulang sekolah, Syams tidak langsung pulang. Dia berjalan ke perbatasan
lagi, ke Warung Ahmad. Langit mendung, udara pengap.
Pak Ahmad sedang menyapu lantai saat Syams tiba.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam."
Syams duduk di bangku kayu di depan warung. Dia tidak beli apa-apa.
Hanya duduk, menatap jalanan kosong.
Pak Ahmad berhenti menyapu, lalu duduk di sebelah Syams. Dia memegang sapu.
"Kenapa kamu nak?" tanya Pak Ahmad tanpa menatap Syams.
Syams diam lama. Lalu berkata pelan, "Tidak apa Pak, saya ini kadang bolong-bolong sholatnya"
Pak Ahmad menyapu sedikit. "Nah koq bisa bolong, sholat itu tradisi hamba Allah dari dulu lho, dari
Nabi Adam juga sudah ada"
"Oh ya?"
Pak Ahmad menatap jalanan dengan wajah datar. "Jangan sampai kamu lupa, ciri penyembah Allah ya solat itu. Kalau gak solat nyembah siapa dia jadinya ?"
Syams menatap Pak Ahmad.
Pak Ahmad melanjutkan, "Ingat semua didunia ini adalah
dari Allah, jangan sombong dan malas solat."
Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri
kanan. Langit sudah gelap. Gerimis mulai turun lagi.
Ilmu yang banyak tanpa adab, kayak pohon tanpa akar.
Inner voice-nya bergulir, tajam dan pahit.
Farhan hafal banyak dalil. Dia khutbah di mimbar. Dia ketua Rohis. Tapi berbicara seperti mengukur keimanan orang, beda dengan Pak Ahmad langsung kena tanpa rasa pahit
Syams berhenti di depan rumahnya, membiarkan gerimis membasahi wajahnya.
Atau… aku hanya defensif karena aku memang kurang? Karena aku jarang
shalat dhuha? Karena aku sering bolong shalat?
Dia menatap tangannya yang basah oleh air hujan.
Aku tidak tahu.
Syams masuk ke rumah, membuka Notes di hapenya. Dia menatap layar kosong
lama sekali.
Lalu mengetik pelan:
"Mungkin ilmu bukan tentang seberapa banyak yang kau tahu. Tapi
seberapa rendah hati kau membawa yang kau tahu."
Dia menyimpan tulisan itu. Tapi berbeda dengan episode sebelumnya, kali
ini Syams merasa lebih berat.
Ilmu bukan mahkota. Tapi aku bahkan belum punya ilmu untuk tidak
disombongkan.
Syams menatap jendela kamarnya. Hujan semakin deras.
Aku ingin lebih baik lagi, tapi bukan untuk dibandingkan, tapi untuk diriku yang juga hambaNya.

Komentar
Posting Komentar