Episode 8: Ujung dan Awal
LAIL - Sungai Raya
Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari.
Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada.
Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota.
Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya.
Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas.
Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali.
Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis.
Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam.
Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa...
Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok."
Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat.
Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya.
"Aisyah hebat banget! Juara dua!"
"Kamu emang pinter nulis, Syah!"
Aisyah tersenyum bangga. "Alhamdulillah. Aku juga gak nyangka. Padahal aku nulis cepet-cepet kok."
Lail duduk di belakang, menatap mejanya. Tangannya meremas pulpen.
Aku menulis dengan hati. Aku tulis tentang sawah yang aku lihat setiap hari, tentang petani yang bekerja keras, tentang matahari terbit yang aku saksikan dari teras rumah. Tapi... tidak cukup.
Inner voice-nya semakin keras.
Mungkin aku memang tidak bisa. Mungkin aku tidak berbakat. Mungkin... aku harus berhenti menulis.
Sore itu, Lail tidak pulang lewat sawah seperti biasa. Dia berjalan dengan langkah lambat, kepala tertunduk, tidak melihat langit sore yang indah.
Zahra mengejarnya. "Lail, kamu kenapa sih? Dari tadi murung."
"Aku... capek, Zahra."
"Capek kenapa?"
Lail berhenti berjalan. "Capek berusaha, tapi gak pernah berhasil. Capek nulis, tapi gak pernah diakui. Capek... berharap."
Zahra menatapnya dengan khawatir. "Lail, jangan gitu. Kamu kan pinter—"
"Pinter tapi gak menang. Sama aja bohong," Lail memotong. Air matanya mulai berkaca. "Mungkin aku emang gak cukup baik."
Dia berjalan lagi, meninggalkan Zahra yang terdiam.
Aku menyerah. Aku tidak akan ikut lomba lagi. Untuk apa?
SYAMS - Bandar Mahkota
Rabu sore, Syams duduk di ruang tamu, menatap kertas ulangan matematika yang sudah dia simpan seminggu. Nilai 45 masih tercetak jelas di atas kertas.
Ibunya duduk di sebelahnya—wajahnya lelah, tapi tidak marah. Hanya... kecewa.
"Syams, kamu bohong ke Mama," katanya pelan.
"Maaf, Ma."
"Mama gak marah karena nilaimu jelek. Mama kecewa karena kamu bohong."
Syams menunduk. Tangannya gemetar.
"Kenapa kamu bohong?" tanya ibunya lagi.
Syams tidak menjawab. Dia tidak tahu harus bilang apa.
Ibunya menghela nafas. "Papa dan Mama capek, Syams. Abangmu sudah bikin pusing dengan minta uang terus. Sekarang kamu bohong. Mama... lelah."
Syams merasakan dadanya sesak. Aku menambah beban Mama.
Ibunya berdiri, masuk ke kamar. Pintu ditutup pelan—tapi bunyi pelan itu lebih menyakitkan daripada bentakan.
Malam itu, Syams tidak bisa tidur. Dia menatang langit-langit kamarnya dengan mata kosong.
Inner voice-nya berbisik, dingin dan berat.
Aku gagal matematika. Aku bohong ke Mama. Aku bikin Mama kecewa. Aku... tidak berguna.
Dia teringat semua episode sebelumnya—Rizky yang merendahkannya, ranking yang biasa-biasa saja, Hafiz yang selalu marah-marah, ulangan yang membuat panik dan gagal.
Apa gunanya aku coba? Apa gunanya aku berusaha? Hasilnya tetap sama—aku tetap gagal.
Air mata mulai turun.
Mungkin aku memang tidak bisa. Mungkin aku harus berhenti berharap.
PERTEMUAN DI WARUNG AHMAD
Kamis sore, Lail berjalan ke Warung Ahmad. Dia tidak tahu mau kemana—hanya ingin keluar dari rumah, keluar dari pikirannya sendiri.
Langit mendung. Angin kencang. Seperti mau hujan.
Saat sampai di warung, Lail melihat seorang anak laki-laki duduk di bangku kayu di depan warung—punggung membungkuk, kepala tertunduk. Dia tidak mengenalnya.
Lail masuk ke warung. Pak Ahmad sedang menata barang di rak.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam, Lail. Mau beli apa?"
"Teh kotak, Pak."
Pak Ahmad mengambil teh dari kulkas, menyerahkannya ke Lail. Lail membayar, lalu keluar—duduk di ujung bangku kayu, agak jauh dari anak laki-laki tadi.
Mereka diam. Tidak saling tegur sapa.
Beberapa menit kemudian, Syams yang tadinya duduk di ujung bangku, masuk ke warung. "Pak Ahmad, ada pulpen?"
"Ada. Ambil sendiri di rak sono."
Syams mengambil pulpen, membayar, lalu keluar lagi—duduk kembali di bangku.
Pak Ahmad keluar, membawa sapu. Dia mulai menyapu halaman warung. Tidak bilang apa-apa.
Tapi kemudian dia berhenti menyapu, menatap langit yang semakin gelap.
"Mau hujan nih," katanya, seperti bicara sendiri. "Kalau hujan, orang pada bilang buruk—basah, kotor, ribet. Tapi petani bilang bagus—sawah dapat air, padi tumbuh."
Lail dan Syams diam-diam mendengarkan.
Pak Ahmad melanjutkan sambil terus menyapu, "Sama kayak kegagalan. Ada yang bilang kegagalan itu akhir dari segalanya. Tapi ada yang bilang kegagalan itu pupuk—biar yang berikutnya tumbuh lebih baik."
Dia berhenti menyapu, menatap dua anak di depannya—tanpa tahu mereka sedang patah hati dengan cara mereka masing-masing.
"Orang yang putus asa itu kayak tanaman yang berhenti tumbuh karena takut matahari terlalu panas. Padahal kalau dia bertahan, besok bisa hujan. Tapi dia udah mati duluan."
Pak Ahmad masuk ke warung, meninggalkan Lail dan Syams dalam keheningan.
Hujan mulai turun. Gerimis dulu, lalu semakin deras.
Lail dan Syams masih duduk di bangku—tidak berlari, membiarkan hujan membasahi mereka sedikit demi sedikit.
Lail menatap jalanan yang mulai basah. Orang yang putus asa itu kayak tanaman yang berhenti tumbuh karena takut matahari terlalu panas...
Syams menatap tangannya yang basah oleh hujan. Padahal kalau dia bertahan, besok bisa hujan...
Mereka tidak saling melirik. Tidak saling tahu nama. Tapi mereka duduk di bangku yang sama, mendengar kata-kata yang sama, merasakan hujan yang sama.
Pak Ahmad keluar lagi, membawa dua plastik. "Kalian mau pulang atau mau nunggu hujan reda dulu?"
"Nunggu, Pak," jawab Lail pelan.
"Nunggu," jawab Syams, hampir bersamaan.
Pak Ahmad memberikan plastik ke mereka. "Ini buat tutup kepala kalau mau pulang nanti."
Dia masuk lagi ke warung.
Lail dan Syams duduk dalam keheningan. Hujan semakin deras. Tapi entah kenapa, suara hujan terasa... menenangkan.
Lima belas menit kemudian, hujan mulai reda. Gerimis pelan.
Lail berdiri duluan. Dia menatap jalanan yang basah, lalu melirik sekilas ke anak laki-laki di sebelahnya—wajah yang tidak dia kenal, tapi entah kenapa terasa... dekat.
"Assalamualaikum," kata Lail pelan, sambil berjalan.
Syams tersentak. Dia menoleh—tapi Lail sudah berjalan menjauh.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya terlambat, pelan, hampir tidak terdengar.
LAIL - Setelah Pertemuan
Lail berjalan pulang lewat sawah. Hujan sudah berhenti. Langit masih kelabu, tapi ada celah cahaya di ufuk barat.
Dia menatap sawah yang basah—tadinya kering, sekarang penuh air. Padi-padi yang tadinya layu, sekarang tegak lagi.
Hujan datang setelah panas. Kegagalan itu pupuk—biar yang berikutnya tumbuh lebih baik.
Inner voice-nya berbisik, pelan tapi berbeda dari sebelumnya.
Aku gagal di lomba karya tulis. Tapi itu bukan berarti aku harus berhenti menulis. Itu berarti... aku harus belajar menulis lebih baik lagi.
Lail berhenti di tengah jalan, menatap cahaya di ufuk barat.
Aisyah menang bukan karena aku jelek. Dia menang karena dia lebih baik kali ini. Tapi lomba ini bukan lomba terakhir. Masih ada besok. Masih ada kesempatan lain.
Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:
"Putus asa itu memilih mati sebelum waktunya. Padahal Allah tidak pernah menutup pintu—kita yang menutup mata sendiri. Kegagalan bukan akhir. Kegagalan adalah awal yang lain."
Lail menyimpan tulisan itu, lalu berjalan pulang dengan langkah lebih ringan.
Aku tidak akan menyerah. Aku akan menulis lagi.
SYAMS - Setelah Pertemuan
Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Jalanan basah, pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Tapi kali ini dia tidak merasa terkurung.
Dia teringat kata-kata Pak Ahmad. Kegagalan itu pupuk—biar yang berikutnya tumbuh lebih baik.
Inner voice-nya bergulir, masih berat, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Aku gagal matematika. Aku bohong ke Mama. Aku bikin Mama kecewa. Tapi... apa itu berarti aku harus berhenti mencoba?
Dia berhenti di depan rumahnya. Lampu ruang tamu menyala—Mama pasti sedang di dalam.
Mama kecewa bukan karena aku gagal. Mama kecewa karena aku bohong. Kalau aku bilang jujur dari awal, mungkin Mama akan bantu aku belajar.
Syams menatap pintu rumahnya.
Aku tidak bisa mengubah nilai 45 itu. Tapi aku bisa mengubah apa yang aku lakukan setelah ini.
Dia masuk ke rumah. Ibunya sedang duduk di sofa, menonton TV dengan wajah lelah.
"Ma," kata Syams pelan.
Ibunya menoleh.
"Aku... minta maaf. Bukan cuma karena bohong. Tapi karena aku bikin Mama tambah capek."
Ibunya diam sebentar, lalu mengangguk pelan. "Ibu terima maafmu."
"Aku... mau belajar lebih serius. Mau minta bantuan kalau gak ngerti. Gak mau bohong lagi."
Ibunya tersenyum tipis—lelah, tapi ada kehangatan di sana. "Itu yang Mama mau dengar, nak. Ingat kita umat islam dilarang putus asa dari rahmat Allah ya, nilai ini hanya sebagian dari rahmatnya."
Syams masuk ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:
"Putus asa itu memilih mati sebelum waktunya. Tapi selama aku masih bisa bernafas, aku masih bisa mencoba. Kegagalan bukan akhir—kegagalan adalah kesempatan untuk memulai dengan lebih jujur."
Dia menyimpan tulisan itu.
Syams menatap kertas ulangan yang masih terlipat di meja belajarnya. Dia membukanya, menatap angka 45 itu.
Ini bukan akhir. Ini awal yang lain.
Untuk pertama kalinya dalam episode ini, Syams tersenyum tipis.
Aku tidak akan menyerah.
[End of Episode 8]
.png)
Komentar
Posting Komentar