Langsung ke konten utama

Terburu-buru kawan lama malas

 

Episode 6: Detik berlalu dan Langkah Berburu


LAIL - Sungai Raya

Subuh. Suara adzan berkumandang dari masjid kampung yang jaraknya tidak jauh dari rumah Lail. Tapi Lail tidak bangun.

Ayahnya mengetuk pintu kamar. "Lail, subuh."

Lail bergumam, membalikkan badan. "Sebentar, Yah..."

Lima menit kemudian, ayahnya mengetuk lagi. "Lail, keburu lewat."

"Iya, Yah..."

Tapi Lail tetap tidak bangun. Matanya berat. Selimut hangat. Udara dingin pagi hari membuatnya malas bergerak.

Lima belas menit kemudian, ayahnya masuk ke kamar, menyalakan lampu. "Lail, bangun. Subuh udah mau habis."

Lail akhirnya membuka mata, duduk dengan wajah kusut. "Iya, Yah. Maaf."

Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah terseret. Wudhu dengan mata setengah terbuka. Shalat dengan gerakan cepat—pikiran masih setengah tidur.

Selesai shalat, dia langsung kembali tidur.


Pagi itu, Lail bangun kesiangan. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh. Sekolah dimulai jam tujuh.

Dia melompat dari kasur, panik. Langsung pakai seragam tanpa mandi, comot tas, lari ke ruang makan.

Ibunya sudah menyiapkan sarapan—nasi goreng dan teh. "Lail, makan dulu."

"Gak sempet, Bu. Udah telat."

"Makan sebentar aja. Nanti sakit perut."

Lail mengambil beberapa suap cepat, lalu langsung pergi. Dia berlari ke sekolah—jaraknya tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya kehabisan nafas.

Saat tiba di gerbang sekolah, guru piket sudah berdiri di sana. Lail masuk dengan wajah tertunduk.

"Lail, telat lagi," kata Pak Hasan, guru piket, dengan nada lelah. "Ini minggu ketiga berturut-turut."

"Maaf, Pak. Kesiangan."

"Kesiangan terus. Kenapa gak tidur lebih awal?"

Lail tidak menjawab. Dia tidak tahu harus jawab apa.


Istirahat pertama, Lail duduk di kelas bersama Dina dan Zahra—teman satu gengnya. Dina sedang makan kerupuk dengan berisik, sementara Zahra tertawa karena cerita Dina tentang kucing tetangganya yang jatuh ke got tadi pagi.

"Terus lucunya," kata Dina sambil tertawa sendiri, "kucingnya keluar dari got dengan muka super galak, kayak nyalahin got-nya kenapa ada di situ."

Zahra tertawa terbahak. "Kucing juga bisa sombong ternyata!"

Lail tersenyum tipis, tapi pikirannya tidak di situ.

Dina melirik Lail. "Eh, lu kenapa sih? Dari tadi manyun."

"Gak, biasa aja."

"Bohong. Muka lu kayak baru ditinggal nikah," kata Dina sambil menyodorkan kerupuk. "Ini makan, biar happy."

Lail mengambil kerupuk, tapi tidak dimakan. "Aku… telat lagi hari ini."

"Lah, emang kenapa telat? Kan biasa," kata Zahra santai.

"Tapi ini udah tiga minggu berturut-turut. Pak Hasan udah mulai sebel."

Dina mengangguk-angguk sok bijak. "Ohh, berarti lu udah level 'hampir dipanggil orang tua' nih."

"Dina!" Zahra melempar penghapus ke Dina.

"Apa? Gue kan kasih warning," Dina tertawa. "Eh tapi serius, Lail. Lu kenapa sih suka kesiangan? Gue yang tidur jam dua belas aja bisa bangun subuh."

Lail menatap mejanya. "Aku… gak tahu. Aku tuh malas bangun. Padahal bisa, tapi ya… malas aja gitu."

Inner voice-nya berbisik, pelan tapi menusuk.

Kenapa aku malas bangun subuh? Kenapa aku selalu merasa berat untuk bergerak? Kenapa aku selalu menunda sampai terlambat?

Dia teringat wajah ayahnya pagi tadi—lelah, tapi tetap membangunkannya dengan sabar.

Ayah selalu membangunkanku. Tapi sampai kapan aku harus dibangunkan? Kapan aku bisa bangun sendiri?


Sore itu, Lail, Dina, dan Zahra jajan di Warung Ahmad. Mereka duduk di bangku kayu di depan warung, makan cilok dan minum es teh.

Dina sedang cerita tentang tetangganya yang beli motor baru tapi langsung jatuh karena belum bisa bawa. Zahra tertawa sampai tersedak es teh.

Di dalam warung, Pak Ahmad sedang ngobrol dengan Pak Soleh—petani tua yang sering belanja di warungnya.

"Padi lu kapan panen, Pak?" tanya Pak Ahmad sambil menata ATK di rak.

"Sebulan lagi, kira-kira," jawab Pak Soleh. "Tapi ada yang udah mau panen duluan—yang di sawah sebelah."

"Kok bisa? Kan tanamnya bareng?"

Pak Soleh tersenyum. "Dia rajin. Pagi-pagi udah ke sawah, siang juga ke sawah. Aku? Sering molor. Jadi ya gitu, hasilnya beda."

Pak Ahmad mengangguk. "Orang yang malas itu kayak air yang menggenang. Kelihatan tenang, tapi lama-lama keruh dan berbau."

Lail—yang tadinya tertawa bersama Dina dan Zahra—tiba-tiba diam. Telinganya menangkap percakapan itu.

Orang yang malas itu kayak air yang menggenang...

Pak Soleh mengangguk setuju. "Bener. Aku sekarang nyesel. Harusnya dari awal rajin kayak dia. Sekarang panen dia duluan, aku masih nunggu."

"Waktu itu gak bisa ditabung, Pak. Udah lewat ya lewat," kata Pak Ahmad sambil menyerahkan rokok yang dibeli Pak Soleh.

"Iya. Makanya anakku aku ajarin dari sekarang—jangan kayak bapaknya. Jangan malas."

Mereka tertawa kecil, lalu Pak Soleh pergi.

Lail menatap ciloknya yang belum habis. Dina masih cerita tentang sesuatu, tapi suaranya tidak masuk ke telinga Lail.

Malas itu bukan soal capek. Malas itu soal gak mau gerak, padahal bisa.

Inner voice-nya bergulir, pelan tapi tajam.

Waktu itu gak bisa ditabung. Subuh yang aku lewatkan tadi pagi gak akan kembali. Pelajaran yang aku lewatkan karena telat gak akan kembali.


Lail berjalan pulang lewat sawah sendirian—Dina dan Zahra belok ke arah lain. Langit sore berwarna oranye keemasan. Angin bertiup lembut, membawa aroma padi.

Dia berhenti di tengah jalan, menatap sawah yang luas. Ada dua sawah bersebelahan—satu padinya sudah menguning penuh, hampir siap panen. Yang satunya masih hijau, belum waktunya.

Kayak Pak Soleh dan tetangganya. Tanam bareng, tapi hasilnya beda. Karena yang satu rajin, yang satu malas.

Lail merasakan air mata menggantung di pelupuk matanya. Bukan air mata sedih. Air mata sadar.

Aku tidak ingin jadi air yang menggenang. Aku ingin jadi air yang mengalir—bergerak, hidup, bermanfaat.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Malas itu bukan soal tidak bisa. Malas itu soal tidak mau. Dan setiap hari aku memilih untuk tidak mau, aku kehilangan waktu yang tidak akan kembali."

Lail menyimpan tulisan itu, lalu berjalan pulang dengan langkah yang lebih pelan—bukan karena malas, tapi karena dia sedang berpikir.

Besok. Besok aku akan bangun sendiri.


SYAMS - Bandar Mahkota

Senin pagi, Syams bangun dengan alarm pertama. Dia langsung melompat dari kasur, mandi cepat, pakai seragam, comot tas, turun ke ruang makan.

Ibunya baru saja menyalakan kompor. "Syams, sarapan belum siap. Sebentar lagi."

"Gak usah, Ma. Aku beli di jalan aja."

"Syams, makan dulu. Ini tinggal goreng telur—"

"Gak sempet, Ma. Nanti telat."

Syams langsung keluar, berlari ke jalan depan komplek. Dia naik angkot yang lewat, duduk dengan nafas tersengal.

Angkot berhenti di lampu merah. Syams melirik jam di hapenya. Masih ada dua puluh menit sebelum bel masuk.

Harusnya sempet.

Tapi dia tetap merasa cemas. Dadanya sesak. Tangannya berkeringat.



Sampai di sekolah, Syams berlari ke kelas. Beberapa anak sudah duduk, tapi bel belum berbunyi.

Masih lima belas menit lagi.

Syams duduk di kursinya, menaruh tas dengan cepat. Dia mengeluarkan buku, mengeluarkan pulpen—semuanya dengan gerakan cepat, seperti dikejar sesuatu.

Teman sebangkunya, Fajar, melirik. "Lu kenapa sih, Syams? Kayak dikejar setan."

"Gak, biasa aja."

"Biasa aja tapi nafas lu kayak abis lari marathon."

Syams tidak menjawab. Dia membuka buku catatannya, mencoba fokus. Tapi pikirannya tidak bisa diam.

Nanti ada ulangan matematika. Aku udah belajar belum ya? Kayaknya belum cukup. Harusnya semalam belajar lebih lama. Harusnya aku—

Inner voice-nya tidak pernah diam. Selalu ada "harusnya". Selalu ada "nanti". Selalu ada kekhawatiran tentang sesuatu yang belum terjadi.


Istirahat pertama, Syams tidak ke kantin. Dia tetap di kelas, membuka buku matematika, mencoba belajar untuk ulangan nanti siang.

Fajar menghampiri. "Syams, nanti siang kan ulangannya. Sekarang istirahat dulu lah."

"Gak, gue harus belajar."

"Lu udah belajar dari kemarin."

"Belum cukup."

Fajar menggeleng, lalu pergi ke kantin.

Syams membaca soal-soal latihan dengan cepat. Matanya bergerak cepat, tangannya mencoret-coret kertas. Tapi otaknya tidak menyerap apa-apa.

Gue harus bisa. Gue harus paham. Gue gak boleh gagal.

Jam menunjukkan sepuluh menit lagi istirahat berakhir. Syams menutup bukunya dengan kasar.

Gue gak siap. Gue gak akan bisa.


Ulangan matematika dimulai. Syams menerima soal dengan tangan berkeringat. Dia membaca soal pertama—paham. Dia mulai mengerjakan dengan cepat.

Tapi di tengah-tengah, dia ragu. Apa ini jawabannya? Apa gue salah hitung?

Dia menghapus jawaban, menulis lagi. Menghapus lagi. Menulis lagi.

Waktu terus berjalan. Syams panik. Dia mengerjakan dengan lebih cepat—tidak teliti, asal tulis, asal selesai.

Bel berbunyi. Waktu habis. Guru mengumpulkan soal.

Syams menatap lembar jawabannya—berantakan, penuh coretan, beberapa soal kosong.

Gue terburu-buru. Gue panik. Gue… gagal.


Pulang sekolah, Syams berjalan ke perbatasan, ke Warung Ahmad. Langit mendung, udara pengap. Dia tidak tahu mau kemana, tapi dia tidak ingin langsung pulang.

Saat tiba di warung, Syams melihat Pak Ahmad sedang ngobrol dengan seorang ibu-ibu yang baru selesai belanja.

"Bu Siti, kok tergesa-gesa? Belanjanya baru sedikit," kata Pak Ahmad sambil menghitung kembalian.

"Iya, Pak. Anak saya minta dimasakin cepet-cepet. Katanya lapar," jawab Bu Siti sambil memasukkan belanjaan ke kantong plastik dengan terburu-buru.

"Lapar mah gak akan kemana-mana. Kalau tergesa-gesa malah ada yang ketinggalan nanti."

Bu Siti tertawa kecil. "Iya sih, Pak. Tapi gimana ya, udah kebiasaan. Kalau gak cepet-cepet rasanya was-was."

Pak Ahmad tersenyum tipis. "Saya dulu juga gitu, Bu. Kerja cepet-cepet, jalan cepet-cepet. Eh, malah sering salah. Orang yang tergesa-gesa itu kayak air yang dituang ke gelas kecil dengan cepat. Sebagian masuk, sebagian tumpah. Banyak yang terbuang."

Bu Siti mengangguk. "Bener juga ya, Pak."

"Sekarang saya usaha pelan-pelan aja. Ternyata hasilnya malah lebih baik. Gak banyak yang kesisa, gak banyak yang salah."

Bu Siti tertawa. "Iya, Pak. Makasih ya. Saya pulang dulu."

Syams berdiri di pojok warung, berpura-pura melihat rak makanan. Tapi telinganya menangkap semua percakapan itu.

Orang yang tergesa-gesa itu kayak air yang dituang ke gelas kecil dengan cepat. Sebagian masuk, sebagian tumpah...

Pak Ahmad melirik Syams. "Mau beli apa, Nak?"

Syams menggeleng pelan. "Gak jadi, Pak. Makasih."

Dia keluar dari warung, berjalan pelan di jalanan yang sepi.


Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap. Gerimis mulai turun.

Inner voice-nya bergulir, pahit.

Aku selalu terburu-buru. Bangun pagi langsung lari. Makan gak sempet. Belajar terburu-buru. Ulangan dikerjakan panik. Dan hasilnya? Gagal.

Syams berhenti di depan rumahnya, membiarkan gerimis membasahi wajahnya.

Aku bukan malas seperti Lail mungkin. Aku bergerak. Aku cepat. Tapi aku terlalu cepat sampai-sampai aku gak pernah sampai dengan benar.

Dia menatap tangannya yang basah oleh air hujan.

Waktu gak bisa dipercepat. Tapi aku selalu mencoba mempercepat semuanya. Dan akhirnya… aku selalu kehilangan.

Syams masuk ke rumah, langsung ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, menatap layar kosong.

Lalu mengetik pelan:

"Tergesa-gesa itu bukan soal bergerak cepat. Tergesa-gesa itu soal tidak memberi waktu untuk sesuatu berjalan dengan benar. Dan setiap kali aku tergesa-gesa, aku kehilangan lebih banyak daripada yang aku hemat."

Dia menyimpan tulisan itu.

Syams menatap jendela kamarnya. Hujan semakin deras.

Aku tidak ingin jadi air yang tumpah. Tapi aku tidak tahu bagaimana berjalan pelan.

Tidak ada senyum. Hanya keheningan yang berat.


[End of Episode 6]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...