Episode 10: Kerinduan yang Tak Bernama LAIL - Sungai Raya Kamis sore, langit mendung sejak siang. Lail pulang telat dari sekolah—ada diskusi kelompok yang molor. Pas sampai di pertigaan dekat rumah, hujan turun deras. Dia berlari mencari tempat berteduh, dan ujung-ujungnya masuk ke Warung Ahmad. Di dalam warung, Lail duduk di bangku kayu dekat jendela, napasnya masih terengah-engah. Bajunya basah di bagian bahu dan punggung. Dia menatap keluar—hujan deras, angin kencang, langit abu-abu gelap. Pak Ahmad menyodorkan handuk kecil. "Lap dulu, Lail. Nanti masuk angin." "Terima kasih, Pak." Lail menerima handuk itu, mengelap wajah dan rambutnya. "Hujannya kayaknya masih lama. Mau minum teh anget?" Lail mengangguk pelan. "Boleh, Pak." Pak Ahmad menyeduh teh, lalu meletakkannya di meja kecil di depan Lail. Dia sendiri duduk di kursi lipat dekat pintu, menatap hujan. Lail menyesap tehnya pelan. Hangatnya menyebar ke dadanya. Dia menatap hujan yan...