Episode 5: Bayangan dan Pantulan
LAIL - Sungai Raya
Senin pagi, pengumuman ranking kelas ditempel di papan pengumuman. Anak-anak berkerumun, mencari nama mereka di daftar.
Lail berdiri agak jauh, menunggu kerumunan mereda. Dia tidak terlalu peduli ranking—yang penting nilainya naik dari semester lalu.
"Lail! Kamu ranking lima!" teriak Dina, teman sebangkunya, sambil berlari menghampiri.
Lail tersenyum kecil. "Alhamdulillah."
"Aku ranking sepuluh," kata Dina sambil tertawa. "Lumayan lah, naik dari kemarin."
Mereka berjalan kembali ke kelas bersama. Di depan kelas, Aisyah berdiri dengan wajah datar—tidak senyum, tidak sedih, hanya... datar.
"Ranking berapa, Syah?" tanya Dina.
"Dua belas," jawab Aisyah pendek.
Dina dan Lail masuk ke kelas duluan. Aisyah berdiri sebentar di luar, menatap papan pengumuman dari kejauhan.
Istirahat pertama, Lail ke kantin bersama Dina. Mereka beli gorengan dan es teh.
Saat kembali ke kelas, Lail mendengar suara Aisyah berbicara dengan beberapa anak perempuan lain di depan kelas.
"Ranking sih gak penting," kata Aisyah dengan nada agak keras. "Yang penting kan paham pelajarannya. Lagian, ada yang ranking tinggi cuma karena suka nyontek kok."
Lail berhenti melangkah. Dina melirik Lail dengan wajah tidak percaya.
Aisyah melanjutkan, "Kayak Lail tuh, dulu dia sering nanya-nanya jawaban ke aku. Pasti sekarang juga gitu."
Lail merasakan dadanya sesak. Dia tidak pernah menyontek. Dia memang sering bertanya—tapi bertanya itu bukan menyontek.
Dina hendak maju, tapi Lail menahannya. "Gak usah."
"Tapi dia ngomong sembarangan, Lail!"
"Gak usah," ulang Lail pelan.
Inner voice-nya berbisik, tajam.
Kenapa dia bilang gitu? Apa karena aku ranking lebih tinggi dari dia? Apa dia… iri?
Sore itu, Lail duduk di teras rumah, menatap buku catatannya. Tapi pikirannya tidak fokus.
Aisyah bilang aku nyontek. Dia bilang ranking gak penting, tapi dia terlihat kesal.
Inner voice-nya bergulir, pelan tapi dalam.
Apa yang dia rasakan? Kenapa dia ingin aku tidak punya ranking bagus? Kenapa dia tidak bisa senang untukku?
Lail menutup bukunya.
Apa itu namanya dengki?
Sore itu, Lail ke Warung Ahmad. Dia butuh minum—tenggorokannya kering sejak tadi siang.
Pak Ahmad sedang duduk di bangku kayu, membaca koran lama.
"Assalamualaikam, Pak."
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa?"
"Teh kotak, Pak."
Pak Ahmad mengambil teh dari kulkas. Lail duduk di bangku sebelahnya, membuka tehnya pelan.
"Pak Ahmad," kata Lail setelah diam lama. "Kalau ada orang yang… gak suka kita dapat sesuatu yang baik, itu namanya apa?"
Pak Ahmad menatap korannya. "Dengki."
Lail mengangguk pelan. "Itu kenapa bisa ada?"
Pak Ahmad melipat korannya, menatap jalanan. "Karena dia lupa bahwa rezeki itu beda-beda. Dia pikir kalau kamu dapat, berarti dia kehilangan."
Lail menatap teh di tangannya.
Pak Ahmad melanjutkan dengan nada datar, "Orang yang dengki itu kayak bayangan. Dia selalu ikutin kamu, tapi dia sendiri gak punya cahaya."
Lail terdiam.
Pak Ahmad menambahkan, "Yang kamu dapat itu rezekimu. Bukan rampasan dari dia. Allah ngasih sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan."
Lail berjalan pulang lewat sawah. Langit sore berwarna ungu kemerahan. Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah basah.
Orang yang dengki itu kayak bayangan. Dia selalu ikutin kamu, tapi dia sendiri gak punya cahaya.
Inner voice-nya berbisik, lembut.
Aisyah tidak senang dengan rankingku bukan karena aku salah. Tapi karena dia merasa kurang. Dia ingin aku tidak punya yang dia tidak punya.
Lail menatap langit yang mulai gelap.
Tapi Allah ngasih sesuai kebutuhan. Bukan sesuai keinginan. Aku dapat ranking lima karena aku butuh motivasi untuk terus belajar. Mungkin Aisyah dapat ranking dua belas karena Allah tahu dia butuh belajar sabar.
Lail tersenyum kecil—bukan senyum menang, tapi senyum paham.
Aku tidak bisa mengubah perasaan Aisyah. Tapi aku bisa bersyukur dengan rezekiku, tanpa membuat orang lain merasa kecil.
Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:
"Dengki itu terjadi karena kita lupa bahwa rezeki setiap orang sudah diatur. Yang aku dapat bukan rampasan dari orang lain. Itu milikku dari Allah."
Lail menyimpan tulisan itu, lalu melanjutkan jalan pulang dengan hati yang lebih ringan.
SYAMS - Bandar Mahkota
Senin pagi, pengumuman ranking kelas ditempel. Syams tidak ikut berkerumun—dia sudah tahu dia tidak akan ranking tinggi. Nilainya memang biasa-biasa saja.
Tapi yang tidak biasa adalah reaksi Rizky.
Rizky—anak dengan rumah paling besar di komplek, anak yang selalu pamer barang branded—ternyata ranking satu.
"Wah, Rizky juara!" teriak beberapa anak sambil bertepuk tangan.
Rizky tersenyum bangga, dadanya membusung. "Alhamdulillah. Usaha tidak menghianati hasil."
Syams berdiri di belakang, menatap dari kejauhan. Dia scroll daftar ranking—mencari namanya.
Ranking dua puluh tiga.
Tengah-tengah. Seperti biasa.
Istirahat pertama, Rizky dikelilingi teman-teman di kantin. Mereka merayakan ranking satu-nya dengan beli makanan ramai-ramai.
"Rizky, rahasianya apa sih?" tanya salah satu anak.
"Ya belajar dong. Gak cuma main hape," jawab Rizky sambil tertawa. "Kayak Syams tuh, dia mah suka melamun aja. Makanya rankingnya gitu."
Beberapa anak tertawa. Syams duduk di pojok kantin, makan roti isi sendirian.
Inner voice-nya berbisik, dingin dan tajam.
Dia bilang aku suka melamun. Padahal aku juga belajar.
Syams menatap rotinya yang belum habis. Nafsu makannya hilang.
Rizky tidak cukup dengan ranking satu. Dia harus bikin orang lain merasa kecil juga.
Pulang sekolah, Syams tidak langsung pulang. Dia berjalan ke perbatasan, ke Warung Ahmad. Langit mendung, seperti mau hujan.
Pak Ahmad sedang menyapu lantai saat Syams tiba.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam."
Syams duduk di bangku kayu, menatap jalanan kosong. Dia tidak beli apa-apa. Hanya duduk.
Pak Ahmad selesai menyapu, lalu duduk di sebelah Syams. Dia menyalakan lampu.
"Kenapa?" tanya Pak Ahmad tanpa menatap Syams.
Syams diam lama. Lalu berkata pelan, "Pak… kalau ada orang yang bangga dengan apa yang dia punya, terus bikin orang lain merasa kecil… itu namanya apa?"
Pak Ahmad menghembuskan nafas. "Sombong."
"Tapi kalau dia juga… gak suka orang lain dapat sesuatu yang baik?"
"Dengki."
Syams menatap tangannya sendiri. "Bisa ya, sombong dan dengki jadi satu?"
Pak Ahmad menatap jalanan dengan wajah datar. "Bisa. Biasanya orang yang sombong juga dengki. Karena dia takut orang lain lebih baik darinya."
Syams terdiam.
Pak Ahmad melanjutkan, "Dengki itu tidak ada gunanya, menghitung rezeki orang, bukan rezeki sendiri"
Syams menatap Pak Ahmad.
Pak Ahmad menambahkan, "Iri hati adalah gejala kurangnya penghargaan terhadap diri kita sendiri. Masing-masing dari kita memiliki sesuatu untuk diberikan yang tidak dimiliki orang lain."
Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap. Gerimis mulai turun.
Orang yang dengki itu lalai dari melihat berkat dirinya sendiri.
Inner voice-nya bergulir, pahit.
Rizky punya ranking satu. Tapi kenapa dia tidak cukup dengan apa yang dia punya? Kenapa dia harus bikin aku merasa lebih kecil?
Syams berhenti di depan rumahnya, membiarkan gerimis membasahi wajahnya.
Karena dia dengki. Dia takut aku—atau orang lain—bisa lebih baik darinya suatu hari nanti. Jadi dia harus bikin semua orang merasa kecil, supaya dia bisa merasa besar.
Syams menatap rumah Rizky dari kejauhan—rumah paling besar di komplek, dengan pagar besi tinggi dan lampu taman yang menyala terang.
Rumah besar. Ranking satu. Barang branded. Tetap saja tergelincir.
Syams masuk ke rumah, langsung ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, menatap layar kosong.
Lalu mengetik pelan:
"Dengki itu terjadi karena kita lupa bahwa rezeki setiap orang sudah diatur. Tapi orang yang sombong & dengki… dia tidak hanya ingin punya lebih, dia ingin orang lain punya lebih sedikit."
Dia menyimpan tulisan itu.
Syams menatap jendela kamarnya. Hujan semakin deras. Dari jendela, dia bisa melihat lampu rumah Rizky yang terang benderang.
Rizky punya segalanya. Tapi dia mungkin tidak merasa… cukup.
Syams tidak tersenyum. Dia hanya menatap hujan dengan mata kosong.
Aku tidak punya banyak. Tapi setidaknya aku tidak membandingkan.
Tapi perasaan itu tidak membuatnya lebih baik. Hanya… sedikit kurang sakit.
[End of Episode 5]

Komentar
Posting Komentar