Langsung ke konten utama

Dusta dan boros buat kepala pusing selalu

 

Episode 7: Sisa dan Retak


LAIL - Sungai Raya

Jumat sore, Lail dapat uang jajan mingguan dari ayahnya—dua puluh ribu rupiah. Tidak banyak, tapi cukup untuk seminggu jajan di sekolah.

"Jangan dihabiskan hari ini ya," kata ayahnya sambil menyerahkan uang. "Ini buat seminggu."

"Iya, Yah."

Tapi sore itu, Dina mengajak Lail dan Zahra ke pasar malam yang baru buka di lapangan kampung sebelah. Ada mainan, ada jajanan, ada lampu-lampu warna-warni.

"Yuk, Lail! Kita jajan di sana!" ajak Dina dengan mata berbinar.

"Aku cuma punya dua puluh ribu," kata Lail ragu. "Ini buat seminggu."

"Ah, gapapa! Sekali-kali lah. Pasar malam kan jarang ada," Zahra ikut membujuk.

Lail akhirnya ikut. Di pasar malam, dia beli cilok lima ribu, es teh tiga ribu, terus lihat ikat rambut lucu lima ribu. Dia ingat episode kemarin—dia sudah berjanji tidak beli barang yang tidak perlu.

Tapi Dina bilang, "Lucu banget itu! Beli deh!"

Lail membeli juga. Lalu ada lagi anting-anting clip lucu—lima ribu lagi. Lalu permen kapas—tiga ribu.

Saat pulang, uang Lail tinggal dua ribu.

Dari dua puluh ribu, tinggal dua ribu. Baru hari Jumat.


Senin pagi, Lail ke sekolah tanpa uang jajan. Perutnya berbunyi saat istirahat. Dina menawarkan gorengan, tapi Lail menolak—malu.

"Lu kenapa gak jajan?" tanya Zahra.

"Uang jajan habis," jawab Lail pelan.

"Lah? Kan baru hari Senin. Biasanya lu dapat hari Jumat," Dina melotot. "Kemana aja uangnya?"

Lail tidak menjawab. Dia tahu kemana—pasar malam kemarin. Semua habis untuk barang-barang yang sekarang sudah tidak penting lagi.

Inner voice-nya berbisik, tajam.

Aku boros. Aku tidak butuh ikat rambut itu. Tidak butuh anting-anting itu. Tidak butuh permen kapas itu. Tapi aku tetap beli.

Dia teringat wajah ayahnya saat memberi uang—"Jangan dihabiskan hari ini ya."

Tapi aku menghabiskannya.


Selasa sore, Lail ke Warung Ahmad. Tidak beli apa-apa—hanya duduk di bangku kayu di depan warung. Perutnya masih lapar, tapi dia tidak punya uang.



Di dalam warung, Pak Ahmad sedang menata barang-barang di rak. Lail memperhatikan—ada makanan yang sudah kadaluarsa, Pak Ahmad memisahkannya.

"Pak Ahmad, itu kenapa dipisahin?" tanya Lail dari luar.

Pak Ahmad menoleh. "Ini udah lewat tanggal. Gak boleh dijual."

"Terus diapain?"

"Ya dibuang. Sayang sih, tapi mau gimana lagi."

Lail masuk ke warung, melihat tumpukan makanan kadaluarsa itu—banyak. Mie instan, biskuit, permen.

"Kenapa bisa banyak banget, Pak?"

Pak Ahmad menghela nafas. "Kemarin ada orang beli banyak. Aku stok lebih. Eh, taunya yang beli gak dateng-dateng lagi. Jadinya numpuk, sampai lewat tanggal."

Lail menatap tumpukan itu. Pak Ahmad melanjutkan sambil terus menata, "Boros itu gak cuma soal beli yang gak perlu. Boros juga soal sia-siain yang udah ada. Makanan ini jadi sampah, padahal tadinya bisa berguna."

Lail terdiam.

Pak Ahmad melirik Lail sebentar. "Rezeki itu kayak air. Kalau dipake dengan hemat, bisa cukup lama. Kalau dituang sembarangan, ya cepet habis—dan banyak yang terbuang sia-sia."


Lail berjalan pulang lewat sawah. Langit sore berwarna oranye. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah.

Boros itu gak cuma soal beli yang gak perlu. Boros juga soal sia-siain yang udah ada.

Inner voice-nya bergulir, pelan tapi dalam.

Aku sia-siakan uang jajan yang Ayah kasih. Aku beli yang aku tidak butuh. Sekarang aku kelaparan, dan Ayah tidak tahu kalau uangnya sudah habis.

Dia menatap tangannya—kosong.

Rezeki itu kayak air. Aku tuang sembarangan, sekarang gak ada yang tersisa.

Lail berhenti di tengah jalan, menatap langit yang mulai gelap.

Ayah bekerja keras untuk kasih aku dua puluh ribu itu. Dan aku habiskan dalam beberapa jam untuk barang-barang yang sekarang sudah tidak berarti.

Air mata mulai turun. Bukan air mata lapar. Air mata menyesal.

Aku harus belajar berterima kasih dengan cara menjaga apa yang sudah dikasih. Bukan menghabiskannya.

Lail membuka Notes di hapenya, mengetik dengan tangan gemetar:

"Boros bukan cuma soal beli yang tidak perlu. Boros adalah tidak menghargai rezeki yang sudah dikasih. Dan setiap kali aku boros, aku tidak cuma kehilangan uang—aku kehilangan kepercayaan."

Dia menyimpan tulisan itu, lalu berjalan pulang dengan langkah berat.

Minggu depan, aku akan jaga uangku. Aku akan berterima kasih dengan cara yang benar.


SYAMS - Bandar Mahkota

Kamis pagi, guru matematika mengumumkan hasil ulangan minggu lalu—ulangan yang Syams kerjakan dengan panik dan tergesa-gesa.

"Syams, 45," kata Bu Ratna sambil menyerahkan kertas ulangan.

Syams menatap angka merah di atas kertasnya. Empat puluh lima. Tidak lulus.

Gagal. Lagi.

Pulang sekolah, ibunya bertanya, "Syams, ulangan matematikanya gimana?"

Syams terdiam sebentar. Lalu menjawab, "Lumayan, Ma. Dapat tujuh puluh."

Ibunya tersenyum. "Alhamdulillah. Syukurlah."

Syams masuk ke kamarnya, menutup pintu. Dia menatap kertas ulangannya yang terlipat rapi di dalam tas.

Tujuh puluh. Aku bohong.

Inner voice-nya berbisik, dingin.

Kenapa aku bohong? Kenapa aku tidak bilang apa adanya?

Tapi dia tahu jawabannya.

Karena aku tidak mau mengecewakan Ibu. Karena aku tidak mau dibilang gagal. Karena aku… pengecut.


Jumat sore, Hafiz—kakak Syams—pulang membawa tas belanja besar. Dia masuk ke rumah dengan wajah ceria.

"Ma, aku beli baju baru!" teriaknya dari ruang tamu.

Ibu keluar dari dapur. "Beli baju? Dari mana uangnya?"

"Dari uang jajan yang Ayah kasih kemarin."

"Kan itu buat sebulan, Fiz. Kok udah habis?"

Hafiz mengeluarkan baju dari tas—dua baju, mahal, branded. "Ga Ma, itu uang dari Papa, Ma. Uang bulanan belum dikasi Papa."

"Hafiz, kamu ini—"

"Apa sih, Ma?! Kan Papa bisa kasih lagi! Lagian temen-temen saya juga pake yang kayak gini!"

Hafiz masuk ke kamar, membanting pintu.

Ibu berdiri di ruang tamu dengan wajah lelah. Syams melihat dari kamarnya—pintu sedikit terbuka.

Hafiz uang jajan buat sebulan, tapi di habisin dalam seminggu. Sekarang dia minta lagi.

Inner voice Syams bergulir, tajam.

Dia boros dan dia bohong. Dua-duanya. Dan Mama tidak bisa berbuat apa-apa.


Sabtu sore, Syams ke Warung Ahmad. Dia butuh keluar dari rumah—terlalu bising dengan drama Hafiz yang minta uang lagi ke Ayah tadi pagi.

Saat sampai di warung, Syams melihat Pak Ahmad sedang melayani seorang pemuda—mungkin mahasiswa—yang membeli rokok.

"Pak, rokoknya yang itu aja," kata pemuda itu sambil menunjuk rokok termahal di rak.

Pak Ahmad mengambil rokok itu. "Dua puluh lima ribu."

Pemuda itu membayar, lalu keluar. Tapi Syams dengar dia bergumam, "Sial, uang tinggal sepuluh ribu. Belum tanggal tua udah habis."

Syams duduk di bangku kayu di depan warung. Pak Ahmad keluar, duduk di sebelahnya.

"Liat tadi?" tanya Pak Ahmad tiba-tiba.

Syams menoleh. "Maksudnya, Pak?"

"Anak tadi. Beli rokok mahal, tapi uangnya tinggal dikit. Belum tanggal tua udah ngeluh."

Syams diam.

Pak Ahmad menatap jalanan. "Boros itu saudara setan. Orang yang boros itu gak bisa bedain mana kebutuhan, mana keinginan. Semuanya pengen dibeli. Ujung-ujungnya menderita sendiri."

Syams menatap tangannya.

Pak Ahmad melanjutkan, "Dan kalau udah boros terus gak punya uang, biasanya bohong. Minta ke orang tua dengan alasan yang dibuat-buat. Boros dan dusta itu sering jalan bareng."

Syams tersentak.

Hafiz boros. Hafiz bohong untuk dapet uang lagi. Persis kayak yang Pak Ahmad bilang.

Pak Ahmad berdiri, hendak masuk ke warung. Tapi sebelum masuk, dia berkata tanpa menatap Syams, "Bohong itu kayak retak di gelas. Sekali retak, air bakal bocor terus. Dan makin lama, retaknya makin banyak sampai gelasnya pecah." 

Pak Ahmad berbalik ke arah Syams "Besok kamu tidak akan melihat rak rokok disini lagi, kita bereskan diri kita sendiri kalau mau nasehati orang lain".

Semenjak saat itu, Pak Ahmad tidak pernah terlihat merokok lagi. 


Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Langit sudah gelap. Lampu jalan mulai menyala.

Bohong itu kayak retak di gelas. Sekali retak, air bakal bocor terus.

Inner voice-nya bergulir, pahit dan tajam.

Aku bohong soal nilai ulangan. Aku bilang tujuh puluh, padahal empat puluh lima. Dan sekarang, setiap kali Mama tanya pelajaran, aku harus bohong lagi—bilang lancar, bilang paham, bilang gak ada masalah.

Syams berhenti di depan rumahnya. Lampu ruang tamu menyala—Mama pasti sedang nonton TV.

Retak pertama sudah ada. Kalau aku terus bohong, retaknya bakal makin banyak. Sampai suatu hari… gelasnya pecah.

Dia menatap tangannya yang gemetar.

Hafiz boros dan bohong. Aku tidak boros. Tapi aku bohong. Dan itu sama bahayanya.

Syams masuk ke rumah, langsung ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, menatap layar kosong.

Lalu mengetik pelan:

"Bohong itu bukan soal kata-kata. Bohong itu soal kepercayaan yang dikhianati. Dan setiap kali aku bohong, aku buat retak baru di hubunganku dengan orang yang aku sayangi. Suatu hari, retak itu akan jadi pecahan yang tidak bisa disatukan lagi."

Dia menyimpan tulisan itu.

Syams menatap kertas ulangannya yang masih terlipat di dalam tas.

Aku harus bilang yang sebenarnya. Tapi… aku takut.Tapi jujur memang jalan termudah dan terbaik.

Syams memutuskan untuk jujur dan menghadapi Mama nya esok nanti. 


[End of Episode 7]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...