Langsung ke konten utama

Sungai dan Jalan

 

Episode 12: Cermin dan Tangan

LAIL - Sungai Raya

Rabu sore, Lail pulang sekolah lewat jalan pinggir sungai kecil yang mengalir di belakang kampungnya. Sungai itu dulu jernih---dia ingat waktu kecil sering main air di sana bersama teman-teman.

Tapi sekarang, airnya keruh. Sampah plastik mengambang di permukaan---botol minuman, bungkus mie instan, kantong kresek.

Lail berhenti sejenak, menatap sungai itu dengan dada sesak.

Kenapa jadi kayak gini?

Tiba-tiba, dari arah rumah di seberang sungai, seorang ibu-ibu keluar sambil bawa kantong plastik penuh sampah. Dia berjalan ke pinggir sungai, lalu---tanpa ragu---melempar kantong itu ke air.

Byur.

Kantong plastik itu mengambang, perlahan terbawa arus.

Lail terkejut. "Bu! Bu, jangan buang sampah di sungai!"

Ibu-ibu itu menoleh, wajahnya biasa saja. "Lah, emang kenapa? Air kan mengalir. Nanti juga hilang sendiri."

"Tapi Bu, itu bikin sungai kotor---"

"Udah dari dulu begini kok, Dik. Gak kenapa-kenapa. Lagian, mau dibuang ke mana lagi? Tukang sampah jarang lewat."

Ibu-ibu itu masuk lagi ke rumahnya, menutup pintu.

Lail berdiri di pinggir sungai, tangannya mengepal.

Inner voice-nya bergulir, panas dan kesal.

Kenapa dia gak ngerti? Kenapa dia gak peduli? Masa dia pikir sampah bakal hilang sendiri?

Lail berjalan pulang dengan langkah cepat, wajahnya merah.


Malam itu, di rumah, Lail masih kesal. Dia cerita ke ibunya sambil makan malam.

"Bu, tadi Lail lihat Bu Minah buang sampah ke sungai lagi. Lail udah tegur, tapi dia bilang 'udah dari dulu begini'. Kok bisa sih orang kayak gitu?"

Ibunya menghela nafas. "Ya begitulah, Lail. Orang-orang di kampung ini udah terbiasa. Susah diubah."

"Tapi kan harusnya mereka tahu, Bu! Harusnya mereka sadar!"

Ibunya tersenyum tipis. "Harusnya sih gitu. Tapi kenyataannya gak begitu."

Lail menatap piringnya, nafsu makannya hilang.

Kenapa orang-orang bisa sebodoh itu?


Kamis sore, Lail jalan-jalan ke rumah Dina dan Zahra. Mereka duduk di teras rumah Dina, minum es teh sambil ngemil kerupuk.

Lail cerita lagi---tentang Bu Minah, tentang sampah di sungai, tentang betapa frustasinya dia.

"Gue udah cape deh liat orang-orang kayak gitu," kata Lail sambil menghela nafas panjang. "Masa mereka gak ngerti sih? Apa mereka gak punya otak?"

Dina mengunyah kerupuknya pelan. "Ya udah, biarin aja. Emang lu bisa ubah mereka?"

Lail terdiam.

Zahra menambahkan, "Gue juga sering liat kok. Bapak-bapak di kampung sebelah juga suka buang sampah ke got. Udah berapa kali gotnya mampet. Tapi ya gitu, mereka tetep aja buang."

"Terus kita harus diem aja?" Lail menatap mereka.

Dina mengangkat bahu. "Ya gak diem juga. Tapi lu mau apa? Marah-marah terus? Cape sendiri."

Lail menatap esnya yang mulai mencair.

Apa aku harus diem? Tapi kalau diem, nanti makin parah...


Jumat sore, Lail ke Warung Ahmad. Dia butuh tempat duduk sebentar---hatinya masih penuh dengan kesal yang belum hilang sejak Rabu kemarin.

Pak Ahmad sedang menyapu halaman warungnya---pelan, telaten, seperti biasa.

"Assalamualaikum, Pak."

"Wa'alaikumsalam, Lail. Mau beli apa?"

"Teh kotak aja, Pak."

Pak Ahmad mengambil teh dari kulkas, menyerahkannya ke Lail. Lail duduk di bangku kayu, membuka tehnya pelan.

Pak Ahmad selesai menyapu, lalu duduk di sebelah Lail.

"Kenapa mukanya kusut?" tanya Pak Ahmad tanpa menatap Lail.

Lail menghela nafas panjang. "Pak Ahmad, aku tuh sebel banget sama orang-orang yang buang sampah sembarangan. Kemarin aku liat Bu Minah buang sampah ke sungai. Aku tegur, tapi dia gak peduli. Katanya 'udah dari dulu begini'. Kok bisa sih orang kayak gitu?"

Pak Ahmad diam sebentar, menatap jalanan.

"Terus kamu udah bersihin sungainya belum?"

Lail tersentak. "...Belum, Pak. Tapi kan harusnya mereka yang---"

"Nah, itu dia." Pak Ahmad memotong lembut. "Kamu marah sama orang lain, tapi kamu sendiri belum berbuat apa-apa."

Lail terdiam. Dadanya terasa ditusuk.

Pak Ahmad melanjutkan, pelan tapi dalam. "Bu Minah itu punya dunianya sendiri, Lail. Di dunianya, sampah itu gak bahaya. Di dunianya, sungai itu memang tempat buang sampah dari dulu. Itu paradigmanya. Itu cara dia lihat dunia."

"Tapi Pak, paradigmanya salah!"

"Bener. Tapi kamu gak bisa ubah dunia orang lain dengan marah-marah. Kamu gak bisa paksa dia lepas kacamata dia dan pakai kacamata kamu."

Lail menatap tehnya.

Pak Ahmad menatap Lail dengan mata yang lembut. "Lail, kamu tahu kenapa kamu marah sama Bu Minah?"

"Karena dia salah, Pak."

"Bukan cuma itu. Kamu marah karena kamu merasa lebih benar dari dia. Dan itu gak salah---kamu emang lebih benar soal sampah. Tapi... marah tanpa berbuat apa-apa itu kayak nunjuk bulan tapi tanganmu sendiri kotor. Kamu sibuk nunjuk ke sana, tapi gak sadar tanganmu sendiri perlu dibersihin."

Lail merasakan sesuatu bergeser di dadanya.

Pak Ahmad berdiri, mengambil sapunya lagi. "Kamu gak bisa ubah Bu Minah. Tapi kamu bisa ubah tindakan kamu sendiri. Kalau kamu bener-bener peduli sama sungai itu, bersihin. Jangan cuma marah."

Pak Ahmad masuk ke warung, meninggalkan Lail sendirian di bangku kayu.


Lail berjalan pulang lewat pinggir sungai lagi. Langit sore berwarna oranye kemerahan. Angin bertiup pelan, membawa bau air keruh.

Dia berhenti, menatap sungai itu.

Marah tanpa berbuat apa-apa... kayak nunjuk bulan tapi tanganmu sendiri kotor.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan malu.

Aku marah sama Bu Minah. Tapi aku sendiri belum berbuat apa-apa. Aku cuma marah. Aku cuma ngeluh. Aku... sama aja gak peduli.

Lail menatap tangannya---kosong.

Aku tidak bisa mengubah paradigma Bu Minah. Tapi aku bisa mengubah tindakanku sendiri.

Lail pulang, langsung ambil kantong plastik besar dari dapur. Ibunya bingung.

"Mau kemana, Lail?"

"Lail mau ke sungai sebentar, Bu."

"Mau ngapain?"

Lail tersenyum tipis. "Beresin sampah."


Sabtu pagi, Lail ke sungai dengan kantong plastik dan sarung tangan karet (pinjam dari ibunya). Dia mulai mengambil sampah-sampah yang mengambang---botol plastik, bungkus mie, kantong kresek.

Satu. Dua. Tiga.

Tangannya kotor. Keringatnya bercucuran. Tapi ada sesuatu yang berbeda di dadanya---bukan marah. Bukan frustasi. Tapi... tenang.

Dina dan Zahra lewat, melihat Lail sedang ambil sampah.

"Lail! Lu ngapain?" teriak Dina.

Lail menoleh, tersenyum. "Beresin sampah. Mau bantu?"

Dina dan Zahra melirik satu sama lain, lalu tersenyum.

"Ya udah, kita bantuin deh. Daripada lu sendirian."

Mereka bertiga mulai membersihkan sungai itu---pelan, sedikit demi sedikit.

Tidak banyak. Hanya sekitar sepuluh meter. Tapi airnya sudah terlihat sedikit lebih bersih.

Bu Minah---yang kebetulan lewat---melihat mereka dari kejauhan. Dia berhenti sebentar, menatap, lalu berjalan lagi.

Tidak ada perubahan di wajahnya.

Tapi Lail tidak peduli lagi.

Aku tidak bisa mengubah dia. Tapi aku bisa mengubah diriku sendiri.


Minggu sore, Lail duduk di teras rumah, menatap tangannya yang masih agak kotor dari kemarin.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Frustrasi pada orang lain adalah cermin dari ketidakberdayaan kita sendiri. Kita marah karena kita tidak bisa mengubah mereka. Tapi sebenarnya, kita tidak perlu mengubah mereka. Kita hanya perlu mengubah tindakan kita sendiri. Biarkan tanganmu berbicara---bukan mulutmu."

Lail menyimpan tulisan itu, lalu tersenyum kecil.

Besok aku akan ke sungai lagi. Dan lusa. Dan lusa lagi. Sampai sungai itu bersih.


SYAMS - Bandar Mahkota

Kamis sore, Syams pulang dari les matematika. Dia berjalan kaki lewat jalan komplek---jalanan yang biasanya bersih karena ada tukang sapu setiap pagi.

Tapi sore ini, dia melihat sesuatu yang bikin dadanya panas.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti sebentar di pinggir jalan. Jendela belakang terbuka, lalu sebuah tangan melempar bungkus makanan cepat saji---kotak burger, gelas plastik, sedotan---ke trotoar.

Mobil itu langsung jalan lagi, meninggalkan sampah berserakan di tanah.

Syams berhenti melangkah. Tangannya mengepal.

Dasar gak punya otak.

Dia menatap sampah itu---masih segar, baru dibuang. Tapi dia tidak ambil. Dia hanya berdiri, menatap dengan kesal, lalu berjalan lagi.

Pasti orang kaya. Pasti merasa bisa seenaknya.

Inner voice-nya bergulir, tajam dan panas.

Kenapa orang-orang kayak gitu gak ditangkap aja? Kenapa mereka gak punya rasa malu?


Malam itu, Syams duduk di ruang tamu sambil nonton TV. Tapi pikirannya masih di sampah tadi sore.

Dia ambil hapenya, buka grup WhatsApp komplek, lalu ngetik:

"Pak RT, tadi sore ada mobil buang sampah sembarangan di Jalan Melati. Tolong ditindak."

Beberapa menit kemudian, tidak ada yang bales.

Syams mengetik lagi:

"Kok gak ada yang peduli sih? Komplek kita ini harusnya bersih. Masa dibiarkan?"

Masih sepi.

Lalu ada satu balasan dari nomor tidak dikenal:

"Ya udah, ambil aja sampahnya kalau ganggu. Gak usah ribut."

Syams menatap layar hapenya, dadanya sesak.

Mereka gak peduli.


Jumat sore, Syams ke kamar Hafiz---pintunya terbuka sedikit. Dia lihat Hafiz lagi makan mie instan sambil main game. Bungkus mie dan gelas plastik bekas ada di meja, berserakan.

"Bang, itu sampahnya dibuang dong," kata Syams dari pintu.

Hafiz tidak menoleh. "Nanti aja."

"Kapan nanti? Udah numpuk tuh."

"Ya nanti lah! Gak usah sok bersih lu!"

Syams menutup pintu kamar Hafiz dengan agak keras. Dia masuk ke kamarnya, merebahkan diri di kasur.

Inner voice-nya bergulir, pahit dan lelah.

Bahkan di rumah sendiri aku gak bisa mengubah orang. Hafiz gak akan berubah. Orang-orang di komplek gak akan berubah. Aku sendirian.


Sabtu sore, Syams ke Warung Ahmad. Dia butuh keluar dari rumah---terlalu pengap dengan kekesalan yang menumpuk.

Pak Ahmad sedang menata barang di rak saat Syams tiba.

"Assalamualaikum, Pak."

"Wa'alaikumsalam, Syams. Mau beli apa?"

"Gak beli, Pak. Cuma... mau duduk."

Pak Ahmad mengangguk. Dia keluar, duduk di bangku kayu. Syams duduk di sebelahnya.

Mereka diam lama. Hanya suara angin dan sesekali motor lewat.

"Pak Ahmad," kata Syams pelan. "Kalau... kita udah coba ingetin orang, tapi mereka tetep gak peduli... itu gimana?"

Pak Ahmad menatap jalanan. "Tentang apa?"

"Sampah. Kemarin aku liat orang buang sampah sembarangan dari mobil. Aku juga udah lapor ke grup komplek, tapi gak ada yang peduli. Di rumah, abang aku juga buang sampah sembarangan. Aku tegur, dia marah. Aku... capek, Pak."

Pak Ahmad diam sebentar, lalu berkata pelan. "Terus kamu udah ambil sampah yang mereka buang?"

Syams terdiam.

"...Belum, Pak."

"Kalau gitu, siapa yang lebih boros energi? Mereka yang buang sampah sekali, atau kamu yang marah terus-terusan tapi gak berbuat apa-apa?"

Syams merasakan sesuatu menohok di dadanya.

Pak Ahmad melanjutkan. "Syams, kamu tahu gak kenapa mereka buang sampah sembarangan?"

"Karena mereka gak punya otak, Pak."

Pak Ahmad tersenyum tipis. "Bukan. Karena mereka punya paradigma yang beda. Di kepala orang yang buang sampah dari mobil, dia pikir 'ada tukang sapu kok, nanti juga dibersihin'. Di kepala Hafiz, dia pikir 'ah, Mama nanti juga ambil'. Itu cara mereka lihat dunia."

"Tapi cara mereka salah, Pak!"

"Iya. Tapi kamu gak bisa ubah cara mereka dengan marah. Paradigma orang itu kayak kacamata. Mereka lihat dunia pakai kacamata mereka---ada yang jernih, ada yang buram, ada yang gelap. Kamu gak bisa paksa mereka lepas kacamata mereka dan pakai kacamata kamu."

Syams menatap tangannya sendiri.

Pak Ahmad berdiri, hendak masuk ke warung. Tapi sebelum masuk, dia berkata tanpa menatap Syams.

"Orang yang fokus ke kesalahan orang lain, kayak lampu yang nyala ke luar terus. Terang buat orang lain, tapi rumahnya sendiri gelap. Kalau kamu bener-bener peduli, tunjukin lewat tindakan---bukan kata-kata."

Pak Ahmad masuk ke warung.

Syams duduk sendirian, menatap jalanan yang mulai gelap.


Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap. Lampu jalan mulai menyala.

Orang yang fokus ke kesalahan orang lain... rumahnya sendiri gelap.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan malu.

Aku marah sama orang yang buang sampah. Aku marah sama Hafiz. Aku marah sama orang-orang di grup. Tapi aku sendiri... belum berbuat apa-apa. Aku cuma marah. Aku cuma ngeluh.

Syams menatap tangannya.

Aku tidak bisa mengubah paradigma mereka. Tapi aku bisa menunjukkan pilihan yang berbeda---lewat tindakan.


Minggu pagi, Syams bangun lebih pagi. Dia ambil kantong plastik kecil dari dapur, lalu keluar rumah.

Ibunya bingung. "Syams, mau kemana pagi-pagi?"

"Jalan-jalan sebentar, Ma."

Syams berjalan ke Jalan Melati---tempat dia lihat mobil buang sampah Kamis kemarin. Sampahnya masih ada---kotak burger, gelas plastik, sedotan. Sudah agak kotor karena hujan semalam.

Syams berjongkok, mengambil sampah itu satu per satu, memasukkannya ke kantong plastik.

Tangannya kotor. Aromanya tidak enak. Tapi ada sesuatu yang berbeda di dadanya---bukan marah lagi. Bukan frustasi lagi. Tapi... ringan.

Dia berjalan lagi, mencari sampah lain di sepanjang jalan komplek. Botol plastik di semak-semak. Bungkus permen di trotoar. Sedotan di got.

Satu per satu dia ambil.

Tidak banyak. Hanya sekitar dua puluh meter. Tapi jalanannya terlihat sedikit lebih bersih.

Seorang bapak-bapak yang sedang olahraga pagi lewat, melirik Syams sekilas. Tidak ada reaksi khusus. Dia terus jalan.

Tapi Syams tidak peduli.

Aku tidak bisa mengubah mereka. Tapi aku bisa mengubah diriku sendiri.


Minggu sore, Syams duduk di meja belajar, menatap tangannya yang masih agak kotor dari pagi tadi.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Frustrasi pada orang lain adalah tanda bahwa kita lebih fokus pada cermin daripada tangan kita sendiri. Kita sibuk melihat kesalahan mereka, tapi lupa bahwa tangan kita juga punya pilihan untuk berbuat. Paradigma orang lain bukan tanggung jawab kita. Tapi tindakan kita adalah tanggung jawab kita sepenuhnya."

Syams menyimpan tulisan itu.

Dari kamar sebelah, terdengar suara Hafiz main game lagi---teriak-teriak karena kalah.

Syams tidak kesal lagi. Dia hanya tersenyum tipis---pahit, tapi tenang.

Besok aku akan jalan lagi. Dan lusa. Dan lusa lagi. Sampai jalan ini bersih.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...