Langsung ke konten utama

Sakit itu bisa menjalar keluar

 

Episode 13: Kepalan dan Tangan Terbuka

SYAMS - Bandar Mahkota

Kamis sore, Syams baru keluar dari les matematika. Dia berjalan kaki ke arah Warung Ahmad---sudah jadi kebiasaan mampir sebentar sebelum pulang. Beli minum, duduk sebentar, baru lanjut jalan.

Tapi hari ini kepalanya pusing. Pagi tadi dia dan ibunya disuruh ayahnya balikin barang belanjaan yang salah beli---microwave yang ternyata rusak. Mereka bolak-balik toko dua kali karena barang penggantinya juga bermasalah. Ibunya sampai capek dan kesal. Syams juga ikut pusing.

Capek banget rasanya. Pengen cepet sampe rumah.

Saat dia belok ke jalan menuju Warung Ahmad, dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah.

Di depan warung, agak ke samping di gang sempit, ada tiga anak cowok yang lebih besar---mungkin SMA kelas dua atau tiga---sedang mengerumuni seorang anak yang lebih kecil.

Syams mengenali anak itu.

Fajar? Teman sebangkuku?

Fajar berdiri dengan punggung menempel di tembok, wajahnya pucat. Salah satu anak besar itu---rambut cepak, kaos hitam---memegang kerah baju Fajar.

"Gue udah bilang kan, Jar? Setiap Kamis lu harus bayar. Mana duitnya?"

Fajar menggeleng pelan, suaranya gemetar. "Aku... aku gak punya..."

"Gak punya? Bohong lu!" Anak kedua---yang lebih gemuk, pakai jaket jeans---mendorong bahu Fajar keras. "Kemarin gue liat lu jajan di kantin!"

"Itu... itu uang buat makan siang..."

"Gue gak peduli. Lu harus bayar sepuluh ribu. Sekarang."

Fajar mengeluarkan dompetnya dengan tangan gemetar. Dia membuka---hanya ada selembar lima ribuan.

"Cuma ini..." katanya pelan.

Anak ketiga---yang paling tinggi, pakai topi---merebut dompet itu, ambil uangnya, lalu melempar dompet kosong ke tanah. "Kurang. Besok lu bawa lima ribu lagi. Kalau gak ada, gue tunggu di jalan pulang lu."

Fajar mengangguk cepat, wajahnya hampir menangis.

Syams berdiri di ujung gang, tangannya mengepal. Dadanya sesak.

Aku harus bantu. Aku harus...

Tapi kakinya tidak bergerak. Takut.

Inner voice-nya berbisik, tajam dan panik.

Kalau aku bantu, nanti jadi target. Mereka bertiga. Aku sendirian.

Tapi kemudian dia ingat tentang sampah di jalan. Pak Ahmad bilang: "Tunjukin lewat tindakan---bukan kata-kata."

Aku gak bisa diem.

Syams mengambil hapenya, membuka kamera, lalu berjalan mendekat dengan langkah gemetar.

"Eh!" teriaknya, suaranya agak pecah. "Kalian ngapain?!"

Ketiga anak itu menoleh. Wajah mereka berubah---dari santai jadi jengkel.

"Lu siapa?" tanya anak berbaju hitam.

"Gue... gue temen Fajar." Syams mengangkat hapenya tinggi-tinggi, tangannya gemetar. "Gue udah foto kalian. Gue kirim ke guru BK sekarang."

Anak gemuk tertawa sinis. "Foto? Mau ngapain lu? Sotoy banget sih!"

"Gue serius! Gue kirim sekarang!"

Anak bertopi maju, wajahnya mengancam. "Coba aja lu kirim. Gue tau rumah lu di mana. Gue tunggu lu pulang sekolah besok."

Syams mundur selangkah, dadanya berdebar keras. Tangannya masih menggenggam hape, tapi kakinya mulai gemetar.

Salah. harusnya gak ikut campur...

Inner voice-nya berteriak panik.

Mereka tau rumahku. Mereka bakal ngejar aku bodoh. bodoh

Anak berbaju hitam mendorong Syams keras. Syams terjatuh, hapenya lepas dari tangan dan jatuh ke tanah.

"Dasar bocah sotoy!" anak itu meludah ke samping.

Syams duduk di tanah, menatap hapenya yang retak di sudut layar. Dadanya sesak. Matanya mulai panas.

Gue gak bisa apa-apa. Gue lemah.

Tiba-tiba, dari arah warung, terdengar suara perempuan---keras, tegas, tanpa ragu.

"HEI! KALIAN NGAPAIN?!"


LAIL - Sungai Raya

Lail baru saja turun dari angkot di pertigaan dekat Warung Ahmad. Dia mau beli minyak goreng untuk ibunya---stok di rumah habis.

Saat dia berjalan ke arah warung, dia melihat kerumunan di gang samping---tiga anak cowok besar, satu anak cowok kecil di pojok, dan satu anak cowok lain terjatuh di tanah.

Lail berhenti. Matanya menyipit.

Itu.. pemalakan?

Tanpa pikir panjang, Lail langsung berlari ke arah mereka.

"HEI! KALIAN NGAPAIN?!" teriaknya keras.

Ketiga anak itu menoleh. Wajah mereka kaget---tidak menyangka ada perempuan yang berani teriak.

Lail berdiri di depan mereka, tangannya di pinggang, matanya tajam. "Kalian malakin dia ya? Berani banget!"

Anak berbaju hitam tertawa meremehkan. "Lu siapa? Gak usah ikut campur, lu. Ini urusan cowok."

"Urusan cowok apaan? Ini urusan kriminal namanya!" Lail melangkah maju, tidak takut. "Pemerasan itu pidana tau gak? Pasal 368 KUHP! Lu bisa masuk penjara!"

Anak gemuk terlihat gugup. "Ah, lebay lu. Cuma sepuluh ribu doang---"

"Sepuluh ribu atau sejuta, tetep pemerasan! Dan lu"---Lail menunjuk anak bertopi---"ngancam orang lagi! Itu pasal 369! Makin berat hukumannya!"

Lail sebenarnya tidak hapal pasal-pasal itu persis. Dia cuma pernah baca di artikel internet waktu bikin tugas PKN. Tapi dia ngomong dengan penuh percaya diri---seolah dia pengacara.

Ketiga anak itu mulai terlihat tidak nyaman.

Anak berbaju hitam mencoba terlihat tenang. "Lu ngomong doang. Berani lapor?"

"Gue udah foto wajah kalian" Syams setelah melihat Lail dia merasa memiliki kekuatan lebih "Ini tinggal gue laporin ke polsek. Gue tau polseknya di mana. Bapak gue kenal sama Pak Polisi di sana!"

(Syams bohong. Ayahnya tidak kenal polisi. Tapi suaranya sangat yakin.)

Anak bertopi mulai mundur. "Ah, ribet banget sih... Yaudah, kita pergi aja."

"TUNGGU!" Lail menghalangi mereka. "Sebelum pergi, balikin duit yang lu ambil tadi!"

Anak gemuk mengeluarkan uang lima ribu dari sakunya dengan wajah kesal, lalu melemparnya ke tanah di depan Fajar.

"Udah. Puas?"

"Sekarang minta maaf."

"HAH?!" Ketiga anak itu hampir bersamaan.

"Minta maaf ke dia"---Lail menunjuk Fajar---"sekarang."

Anak berbaju hitam menggertakkan gigi. "Gue gak mau---"

"Lu mau gue lapor sekarang?" Syams mulai ngetik di hapenya, pura-pura mau telepon.

"UDAH UDAH!" Anak bertopi mengalah. Dia menatap Fajar dan Syams dengan wajah kesal. "...Maaf."

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Sekarang pergi. Dan kalau gue denger kalian ganggu mereka lagi, gue langsung ke polsek. Gue serius."

Ketiga anak itu langsung kabur---cepat, tanpa menoleh lagi.


Lail menghela napas panjang. Dadanya masih berdebar keras. Tangannya gemetar---tapi bukan karena takut. Karena adrenalin.

Gue berani juga ternyata.

Dia menoleh ke Fajar yang masih berdiri di pojok, lalu ke anak cowok yang tadi terjatuh---yang sekarang masih duduk di tanah, menatapnya dengan wajah terkejut.

Fajar berjalan ke arah Fajar, mengulurkan tangannya. "Kamu gak apa-apa?"

Fajar menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya. Syams menarik Fajar berdiri.

"Makasih..." kata Fajar pelan. Syams menoleh ke Lail "kita musti terimakasih sama anak cw ini juga"

"terimakasih ya" kata mereka barengan.

"Sama-sama." Lail tersenyum tipis. Dia baru mau bertanya nama anak ini, tapi tiba-tiba pintu Warung Ahmad terbuka.


PAK AHMAD DATANG

Pak Ahmad keluar dari warung dengan wajah serius. Dia sudah melihat semuanya dari dalam---lewat jendela warung yang menghadap ke gang.

"Lail. Syams," panggilnya pelan.

Lail dan Syams menoleh. Mereka berdua tersentak---Pak Ahmad memanggil nama mereka. Berarti Pak Ahmad kenal mereka berdua.

"Masuklah kalian semua. Sekarang," kata Pak Ahmad.

Lail, Syams, dan Fajar masuk ke warung dengan langkah pelan. Pak Ahmad menutup pintu, lalu duduk di kursi lipat. Dia menatap mereka bertiga---tidak marah, tapi serius.

"Duduk."

Mereka duduk di bangku kayu. Tidak ada yang berani bicara.

Pak Ahmad menatap Lail dulu. "Lail, kamu berani. Itu bagus. Tapi berbahaya."

Lail terdiam.

"Kalau mereka bawa pisau gimana? Kalau mereka lebih banyak gimana? Kamu bisa terluka."

"Tapi Pak, kalau aku diem---"

"Aku gak bilang kamu harus diem. Aku bilang kamu harus lebih hati-hati." Pak Ahmad menghela napas. "Keberanian itu bagus. Tapi keberanian tanpa kehati-hatian itu nekat."

Lail menunduk.

Pak Ahmad menatap Syams. "Syams, kamu udah bener ambil foto. Itu cara yang lebih aman daripada langsung maju. Tapi kenapa kamu gak teriak panggil orang dewasa dulu?"

Syams terdiam, tidak tahu harus jawab apa.

"Karena kamu panik. Kamu takut. Itu wajar." Pak Ahmad mengangguk. "Tapi lain kali, teriak dulu. Panggil orang. Jangan sendirian."

Pak Ahmad menatap Fajar. "Dan kamu. Kenapa kamu gak lapor dari awal?"

Fajar menggeleng pelan, suaranya hampir tidak terdengar. "Aku... aku takut, Pak. Mereka bilang kalau aku lapor, mereka bakal... bakal nyakitin aku..."

Pak Ahmad menghela napas panjang. Dia berdiri, mengambil tiga gelas, dan menyeduh teh manis untuk mereka bertiga.

"Minum dulu. Tenangin diri."

Mereka minum dalam keheningan.

Pak Ahmad duduk lagi, kali ini lebih dekat. Dia menatap Fajar dengan tatapan lembut.

"Fajar, kamu gak salah. Tapi kamu gak boleh diem aja. Mereka bakal terus dateng kalau kamu diem. Besok kamu lapor ke guru BK. Atau ke orang tua kamu. Atau ke RT. Jangan sendirian lagi."

Fajar mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

Pak Ahmad menatap Syams dan Lail. "Dan kalian berdua... terima kasih udah bantu. Tapi ingat---kekerasan itu gak menyelesaikan masalah."

Syams menatap tangannya sendiri. Dia ingat---tadi, sesaat sebelum Lail datang, tangannya sudah mengepal. Dia hampir gelap mata. Hampir maju untuk menggoco anak berbaju hitam itu.

Aku hampir pukul mereka. Kalau Lail gak datang, aku pasti udah...

Inner voice-nya bergulir, dingin.

Aku hampir jadi sama kayak mereka.

Pak Ahmad melanjutkan, pelan tapi dalam. "Orang kayak gitu itu biasanya lagi sakit. Bukan sakit badan, tapi sakit hati. Mungkin dia di rumah dipukul bapaknya. Mungkin dia di sekolah diejek temen-temennya. Jadi dia cari yang lebih lemah, biar dia bisa merasa kuat."

Lail mengerutkan kening. "Tapi Pak, itu gak berarti mereka boleh ngelakuin itu ya kan?"

"Bener. Mereka tetep salah. Dan mereka harus dihentikan." Pak Ahmad menatap mereka bertiga. "Tapi kamu gak bisa sembuh-in mereka dengan pukul mereka balik. Kamu cuma bisa bantu korban---dan lapor ke yang berwenang."

Pak Ahmad mengangkat tangannya, mengepalkannya. "Tangan terkepal itu hanya punya satu fungsi---pukul."

Lalu dia membuka tangannya, telapak terbuka. "Tapi tangan terbuka bisa tarik orang keluar dari bahaya, bisa peluk, bisa bantu. Kalian mau jadi kepalan, atau tangan terbuka?"

Ketiganya terdiam, merenungkan kata-kata itu.

Pak Ahmad berdiri, mengambil pulpen dan kertas kecil. Dia menulis nomor telepon, lalu menyerahkannya ke Fajar.

"Ini nomor gue. Kalau mereka dateng lagi, telepon gue. Gue bakal bantuin. Dan besok, kamu harus lapor ke sekolah. Oke?"

Fajar mengangguk, kali ini lebih tegas. "Oke, Pak."

"Bagus." Pak Ahmad tersenyum tipis.


LAIL DAN SYAMS BERKENALAN

Mereka keluar dari warung. Langit sudah mulai sore, warna jingga kemerahan.

Fajar berpamitan duluan---dia harus cepat pulang sebelum maghrib. Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum pergi.

Tinggal Lail dan Syams, berdiri canggung di depan warung.

Lail melirik anak cowok di sebelahnya---yang tadi terjatuh, yang Pak Ahmad panggil "Syams".

"Eh... kamu... Syams ya?" tanya Lail pelan.

Syams menoleh, sedikit kaget. "Iya. Kamu... Lail?"

"Iya."

Mereka diam sebentar. Canggung.

Lail tersenyum kecil. "Kita... sering ke warung ini ya? Tapi baru kali ini ketemu."

Syams mengangguk. "Iya. Aku sering ke sini kalau... kalau lagi haus."

"Aku juga." Lail tertawa kecil. "Pak Ahmad jg enak diajak ngobrol."

"Iya. Dia... banyak nasehat."

Mereka diam lagi. Tapi kali ini tidak secanggung tadi.

Lail menatap Syams. "Kamu... kamu berani loh tadi. Foto mereka, teriak. Aku lihat kok dari jauh."

Syams menggeleng. "Aku... aku takut. Tanganku gemetar. Kalau kamu gak datang, aku gak tahu bakal gimana."

"Tapi kamu tetep maju. Itu yang penting." Lail tersenyum. "Aku juga takut kok tadi. Cuma aku gak mau nunjukin."

Syams menatap Lail---perempuan ini lebih berani dari dia. Lebih vokal. Tapi ada sesuatu yang sama di antara mereka---sama-sama datang ke Warung Ahmad saat lelah. Sama-sama mendengar nasihat Pak Ahmad. Sama-sama... mencoba jadi lebih baik.

"Terima kasih ya... udah bantu," kata Syams pelan.

"Sama-sama. Kita kan... sama-sama bantu Fajar." Lail mengulurkan tangannya. "Teman?"

Syams menatap tangan itu sebentar, lalu menggenggamnya. "Teman."

Mereka tersenyum---tipis, tapi tulus.

"Aku pulang dulu ya. Udara udah gelap," kata Lail.

"Iya. Hati-hati."

"Kamu juga."

Lail berjalan ke arah halte angkot. Syams berjalan ke arah komplek.

Tapi sebelum berpisah, Syams menoleh sebentar.

"Lail!"

Lail berbalik. "Iya?"

"Kalau... kalau kamu ke warung lagi, mungkin kita bisa... ngobrol?"

Lail tersenyum. "Boleh. Aku sering ke sana kok."

Syams tersenyum tipis---untuk pertama kalinya hari itu, senyum yang tidak pahit.


LAIL - Pulang

Lail naik angkot, duduk di dekat jendela. Dia menatap jalanan yang mulai gelap, lampu-lampu mulai menyala.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan hangat.

Aku tadi berani. Aku teriak, aku ancam mereka, aku gak takut. Tapi... Pak Ahmad bilang aku kurang hati2. Dia benar. Kalau mereka bawa senjata, aku bisa terluka.

Lail menatap tangannya---tangan yang tadi menggenggam hape, yang tadi menunjuk-nunjuk pembully dengan penuh percaya diri.

Keberanian tanpa kehati-hatian itu nekat. Aku harus lebih hati-hati lain kali. Tapi... aku gak bisa diem kalau ada orang dibully. Aku gak bisa.

Dia teringat wajah Fajar yang ketakutan. Wajah Syams yang gemetar.

Mereka butuh bantuan. Dan aku ada di sana. Alhamdulillah.

Lail membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Bullying tidak berhenti karena kita diam. Bullying berhenti karena ada orang yang berani berdiri---bukan dengan kepalan tangan, tapi dengan suara yang tegas dan tangan yang terbuka untuk melindungi. Keberanian bukan soal tidak takut. Keberanian adalah tetap bertindak meski takut."

Lail menyimpan tulisan itu, lalu tersenyum kecil.

Aku bertemu Syams hari ini. Anak yang... menarik. Dia pendiam, tapi berani. Aku harap dia baik-baik saja.


SYAMS - Pulang

Syams berjalan pulang lewat jalan komplek. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap sepenuhnya.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan pahit---tapi ada sesuatu yang berbeda.

Aku hampir pukul mereka. Tanganku udah mengepal. Aku hampir maju. Kalau Lail gak datang, aku pasti udah... aku pasti udah jadi sama kayak mereka.

Syams menatap tangannya---tangan yang tadi mengepal, yang hampir memukul.

Pak Ahmad bilang, tangan terkepal hanya bisa pukul. Tapi tangan terbuka bisa bantu. Aku... aku hampir salah.

Dia teringat wajah Lail---perempuan yang berani, yang vokal, yang tidak takut. Tapi Pak Ahmad tetap bilang dia berbahaya. Karena keberanian tanpa kehati-hatian itu nekat.

Lail berani. Tapi dia juga bisa terluka. Aku harap dia lebih hati-hati.

Syams sampai di rumah, langsung ke kamar. Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Bullying tidak berhenti karena kita memukul pembully. Kekerasan hanya menciptakan lingkaran kekerasan baru. Bullying berhenti karena korban tidak sendirian lagi---karena ada yang berani berdiri, melaporkan, dan melindungi. Bukan dengan kepalan, tapi dengan tangan terbuka."

Syams menyimpan tulisan itu.

Dia menatap jendela kamarnya. Hujan mulai turun---gerimis pelan.

Aku bertemu Lail hari ini. Perempuan yang... berani. Lebih berani dari aku. Tapi kita sama-sama datang ke Warung Ahmad. Sama-sama dengerin Pak Ahmad. Mungkin... kita bisa jadi teman.

Untuk pertama kalinya, Syams tersenyum---bukan senyum pahit, tapi senyum yang sedikit lebih ringan.

Besok aku akan pastikan Fajar lapor ke sekolah. Aku gak akan biarkan dia sendirian lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...