Langsung ke konten utama

Beban vs Hadiah

 Episode 11: Berebut Rezeki

LAIL - Sungai Raya

Jumat sore, Lail pulang sekolah lebih awal karena hari Jumat. Dia sampai rumah sekitar jam dua siang—matahari masih tinggi, panas terik.

Begitu masuk rumah, dia lihat ibunya sedang menyapu halaman. Keringat bercucuran di dahi ibunya.

"Assalamualaikum, Bu." Lail menaruh tasnya di ruang tamu.

"Waalaikumsalam, Lail. Udah makan?"

"Belum, Bu. Ibu udah?"

"Belum. Nanti aja. Ibu mau beresin rumah dulu." Ibunya melanjutkan menyapu.

Lail mengganti seragam, lalu keluar lagi. Dia lihat ibunya sekarang sedang mencuci piring—banyak sekali. Piring sarapan, piring makan siang, gelas-gelas.

"Bu, Lail bantu ya?" Lail mengambil lap, mulai mengelap piring yang sudah dibilas ibunya.

"Gak usah, Lail. Kamu capek sekolah. Istirahat aja."

"Gak apa-apa, Bu. Lail gak capek kok."

Mereka berdua diam sejenak, hanya suara air dan piring yang bergesekan.

Tiba-tiba, kakak Lail—Rara—keluar dari kamar. Dia langsung ambil air minum, lalu balik lagi ke kamar.

Ibu Lail menatap pintu kamar Rara, menghela napas pelan.

Lail merasakan sesuatu di dada ibunya—kecewa, tapi tidak diucapkan.

Inner voice-nya bergulir, pelan.

Kenapa Kak Rara gak bantu ya? Ibu capek, tapi dia gak peduli...


Malam harinya, setelah makan malam, ayah Lail duduk di ruang tamu sambil nonton TV. Ibu Lail mulai membereskan meja makan—ngangkat piring kotor, lap meja, cuci piring lagi.

Rara masih di kamar. Lail bantu ibunya ngangkat piring.

Ayah Lail menoleh. "Rara mana?"

"Di kamar, Yah," jawab ibu Lail sambil terus bekerja.

"Kok dia gak bantu-bantu sih? Dari tadi kamu kerja terus."

Ibu Lail tersenyum tipis. "Ah, gak apa-apa. Dia lagi sibuk belajar kayaknya."

Tapi Lail tahu—Rara gak belajar. Dia main HP.

Ayah Lail terlihat kesal. "Besok suruh dia bantu. Masa kamu kerja sendiri terus?"

Ibu Lail tidak menjawab, hanya tersenyum lelah.

Lail menatap ibunya—punggungnya sedikit bungkuk karena capek, tangannya kasar karena sering cuci piring dan nyuci baju.

Inner voice-nya bergulir, sedih dan kesal.

Ibu capek... tapi Kak Rara gak peduli. Apa dia gak lihat? Apa dia gak ngerasa bersalah?


Sabtu pagi, Lail bangun pagi—jam lima subuh. Dia shalat Subuh, lalu keluar kamar. Ibunya sudah di dapur, masak sarapan.

Lail menghampiri. "Bu, Lail bantuin ya?"

"Gak usah, Lail. Ini tinggal dikit lagi."

Tapi Lail tetap bantu—ngambil piring, tata meja makan, bikin teh.

Jam tujuh pagi, Rara baru bangun. Dia langsung mandi, lalu makan sarapan yang sudah disiapkan ibu.

Setelah makan, Rara langsung balik ke kamar lagi.

Ayah Lail yang sedang baca koran mengerutkan kening. "Rara!" panggilnya keras.

Rara keluar lagi dari kamar. "Iya, Yah?"

"Kamu kok gak bantu Ibu sih? Dari kemarin Ibu kerja sendiri terus!"

Rara terlihat kesal. "Lah, Lail juga bantuin kan? Masa saya harus bantuin juga? Gak adil ah!"

"Adil gimana? Ibu itu ibumu juga! Masa cuma Lail doang yang bantuin?"

"Ya tapi kan harusnya dibagi rata! Saya sekolah sampe sore, Lail kan enggak. Itu gak adil!"

Lail terdiam. Ayahnya terdiam. Ibunya juga terdiam.

Rara balik ke kamar, menutup pintu agak keras.

Lail menatap ibunya—wajahnya terlihat sedih, tapi dia tersenyum tipis.

Ibu capek, dia gak peduli. Terus dia bilang gak adil karena dia harus bantuin?


Sore harinya, Lail ke Warung Ahmad beli minyak goreng. Dia butuh jalan kaki—pikirannya penuh dengan kejadian tadi pagi.

Pas sampai di warung, dia lihat Pak Ahmad sedang menyapu depan warungnya—seperti biasa, pelan dan telaten.

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikumsalam, Lail. Beli apa?"

"Minyak goreng satu, Pak."

Pak Ahmad mengambil minyak goreng dari rak, menyerahkannya pada Lail. "Ini."

Lail membayar, lalu berdiri sebentar—tidak langsung pulang.

Pak Ahmad menatapnya. "Kenapa? Ada yang mau diceritain?"

Lail terdiam sebentar, lalu bercerita—tentang Rara yang tidak mau bantu ibunya karena merasa "tidak adil".

Pak Ahmad mengangguk-angguk pelan, lalu tersenyum tipis.

"Lail, kamu tahu gak... kenapa aku suka menyapu depan warung ini tiap sore?"

Lail bingung. "Kenapa, Pak?"

"Karena itu rezeki."

Lail mengerutkan kening. "Rezeki?"

Pak Ahmad menaruh sapunya, lalu duduk di bangku kayu depan warung. "Iya. Setiap pekerjaan itu rezeki, Lail. Bukan beban. Bukan sesuatu yang harus dibagi rata supaya 'adil'. Tapi sesuatu yang harus direbut—karena itu pahala."

Lail duduk di sebelahnya, mendengarkan dengan serius.

Pak Ahmad melanjutkan, pelan tapi dalam. "Kalau kamu nanya 'kenapa aku terus yang kerja?'—itu artinya kamu lihat kerja sebagai beban. Tapi kalau kamu bilang 'Alhamdulillah aku yang kerja'—itu artinya kamu lihat kerja sebagai hadiah."

Lail merasakan sesuatu bergeser di dadanya.

Pak Ahmad tersenyum. "Kalau kakak kamu gak mau bantu ibumu, itu bukan masalah kamu. Itu haknya dia—dia yang rugi karena dia kehilangan rezeki. Tapi kamu? Kamu untung—karena kamu dapet lebih banyak pahala."

Lail menatap tangannya—tangan yang tadi pagi bantu ibunya cuci piring, tata meja makan, bikin teh.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan hangat.

Aku... dapet rezeki. Bukan beban. Aku dapet pahala karena bantu Ibu. Kalau Kak Rara gak mau bantu... itu dia yang rugi.

Pak Ahmad menepuk bahu Lail pelan. "Kerja itu rebutan, Lail. Bukan bagi-bagian. Yang mikirin bagi-bagian, dia gak akan dapet apa-apa. Yang rebut duluan, dia yang dapet."

Lail tersenyum tipis—pahit, tapi ada ketenangan di sana.

"Terima kasih, Pak Ahmad."

Lail berjalan pulang, menatap langit sore yang mulai jingga.

Aku akan rebut semua pekerjaan di rumah. Bukan karena aku harus adil. Tapi karena itu rezeki—dan aku gak mau rugi.


SYAMS - Bandar Mahkota

Sabtu pagi, Syams bangun jam delapan. Dia keluar kamar, lihat ibunya sedang ngepel lantai ruang tamu.

"Pagi Syams. Udah sarapan?"

"Belum, MaMama udah?"

"Belum. Nanti aja. Mama mau beresin rumah dulu."

Syams ke dapur, lihat piring-piring kotor di wastafel—banyak sekali. Piring sarapan Hafiz, gelas-gelas, panci bekas masak.

Syams cuci tangan, lalu mulai cuci piring.

Ibunya datang ke dapur, kaget. "Eh, Syams! Gak usah, nak. Mama aja nanti."

"Gak apa-apa, Ma. Syams bantuin."

Ibunya tersenyum lega. "Makasih ya, Syams..."

Mereka berdua bekerja—ibunya ngepel, Syams cuci piring.

Tiba-tiba, Hafiz keluar dari kamar. Dia langsung ke kulkas, ambil air minum, lalu balik lagi ke kamar.

Syams menatap pintu kamar Hafiz yang tertutup.

Inner voice-nya bergulir, pahit.

Hm.. kerjaan maen terus orangtua jadi pembantu..


Siang harinya, setelah makan siang, ayah Syams duduk di ruang tamu sambil baca berita di hape. Ibu Syams mulai membereskan meja makan—ngangkat piring kotor, lap meja.

Syams bantu ngangkat piring. Hafiz masih di kamar—main game, suaranya keras.

Ayah Syams menatap pintu kamar Hafiz, kesal. "Hafiz!" panggilnya keras.

Hafiz keluar, wajahnya kesal. "Apa sih, Pa?"

"Kamu kok gak bantu Mama? Dari tadi Mama kerja sendiri terus!"

Hafiz terlihat malas. "Lah, Syams juga bantuin kan? Masa saya harus bantuin juga?"

"Maksud kamu apa?"

"Ya harusnya kan dibagi rata, Pa! Kenapa saya harus kerja terus?"

"Kamu kerja apa? Dari tadi kamu main game doang!"

"Saya kan udah belajar terus semaleman, sampe saya ranking 1 di kelas, jadi saya udah abis banyak waktu"

Ayah Syams marah. "Game kamu nanti Papa ambil ya, cepet bantu mamamu!"

Hafiz balik ke kamar, kesal.

Syams terdiam. Ibunya terdiam—wajahnya lelah, sedih, tapi dia tersenyum tipis.

Inner voice-nya bergulir, gelap dan pahit.

Apa sih dia males bantu mama,karena sudah belajar lama, ranking 1 gitu, hubungannya apa.


Sore harinya, Syams ke Warung Ahmad beli telur. Dia butuh jalan kaki—pikirannya penuh dengan kejadian tadi siang.

Pas sampai di warung, dia lihat Pak Ahmad sedang menyapu depan warungnya—pelan, telaten, seperti sedang melakukan ritual.

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikumsalam, Syams. Beli apa?"

"Telur sekiloan, Pak."

Pak Ahmad mengambil telur, menimbangnya, lalu membungkusnya rapi. "Ini."

Syams membayar, lalu berdiri sebentar—tidak langsung pulang.

Pak Ahmad menatapnya. "Mau cerita?"

Syams terdiam sebentar, lalu bercerita—tentang Hafiz yang tidak mau bantu ibunya karena merasa "tidak adil".

Pak Ahmad mengangguk-angguk pelan, lalu tersenyum tipis.

"Syams, kamu tahu gak... kenapa aku selalu menyapu depan warung ini tiap sore, padahal besok juga kotor lagi?"

Syams menggeleng.

"Karena pekerjaan itu rebutan, bukan bagi-bagian."

Syams mengerutkan kening. "Maksudnya, Pak?"

Pak Ahmad menaruh sapunya, lalu duduk di bangku kayu. "Orang yang mikirin 'adil' itu biasanya lagi mikirin: 'Kok aku yang kerja? Kok dia gak kerja?' Tapi orang yang paham rezeki, dia mikir: 'Alhamdulillah, aku dapet kesempatan kerja. Aku dapet kesempatan dapet pahala.'"

Syams terdiam, mendengarkan.

Pak Ahmad melanjutkan. "Setiap pekerjaan di rumah—cuci piring, sapu lantai, bantu ibu—itu bukan beban yang harus dibagi rata. Itu rezeki yang harus direbut. Kalau kamu nunggu sampai 'adil', kamu gak akan dapet apa-apa. Tapi kalau kamu rebut duluan—kamu yang untung."

Syams menatap tangannya—tangan yang tadi cuci piring, bantu ibunya.

Inner voice-nya bergulir, pahit tapi paham.

Hafiz bilang gitu juga... padahal dia yang rugi. Dia kehilangan rezeki. Aku yang untung—karena aku dapet pahala.

Pak Ahmad berdiri, mengambil sapunya lagi. "Kerja itu harta, Syams. Orang yang rebut duluan, dia yang kaya. Orang yang nunggu pembagian yang adil... dia yang miskin."

Syams tersenyum tipis—pahit, tapi ada kepahaman di sana.

"Terima kasih, Pak Ahmad."

Syams berjalan pulang, menatap langit sore yang mulai gelap.

Aku gak akan mikirin adil lagi. Aku akan rebut semua pekerjaan—karena itu rezeki. Biar Hafiz rugi sendiri.


Ending Paralel

LAIL - Sungai Raya

Lail sampai rumah, langsung bantu ibunya masak malam. Rara masih di kamar—tidak keluar. 

"Lail. Kakakmu lagi disuruh baca quran sama Ayah, dikamarnya sudah gak boleh ada hape"

Lail tidak kesal lagi. Dia tersenyum.

Alhamdulillah, aku dapet rezeki bantu ibu. Kak Rara yang rugi.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Pekerjaan rumah bukan beban yang harus dibagi rata—tapi rezeki yang harus direbut. Orang yang mikirin 'adil' itu yang rugi. Orang yang rebut duluan—dia yang kaya pahala."


SYAMS - Bandar Mahkota

Syams sampai rumah, langsung ke dapur cuci piring malam. Hafiz masih di kamar—main game lagi.

Tapi Syams tidak marah lagi.

Hafiz yang rugi. Aku yang untung.

Dia menulis di hapenya, mengetik:

"Kerja itu harta yang harus direbut—bukan beban yang harus dibagi. Orang yang nunggu pembagian yang 'adil'... dia yang paling miskin."


[End of Episode 11]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...