Langsung ke konten utama

Kerinduan yang Tak Bernama

Episode 10: Kerinduan yang Tak Bernama

LAIL - Sungai Raya

Kamis sore, langit mendung sejak siang. Lail pulang telat dari sekolah—ada diskusi kelompok yang molor. Pas sampai di pertigaan dekat rumah, hujan turun deras. Dia berlari mencari tempat berteduh, dan ujung-ujungnya masuk ke Warung Ahmad.

Di dalam warung, Lail duduk di bangku kayu dekat jendela, napasnya masih terengah-engah. Bajunya basah di bagian bahu dan punggung. Dia menatap keluar—hujan deras, angin kencang, langit abu-abu gelap.

Pak Ahmad menyodorkan handuk kecil. "Lap dulu, Lail. Nanti masuk angin."

"Terima kasih, Pak." Lail menerima handuk itu, mengelap wajah dan rambutnya.

"Hujannya kayaknya masih lama. Mau minum teh anget?"

Lail mengangguk pelan. "Boleh, Pak."

Pak Ahmad menyeduh teh, lalu meletakkannya di meja kecil di depan Lail. Dia sendiri duduk di kursi lipat dekat pintu, menatap hujan.

Lail menyesap tehnya pelan. Hangatnya menyebar ke dadanya. Dia menatap hujan yang mulai meredaâ€"dari deras menjadi rintik-rintik halus. Angin masih bertiup, menggoyangkan daun-daun pisang di luar warung.

Inner voice-nya bergulir, pelan.

Aku lelah. Pengen pulang. Tapi... kok rasanya berat ya untuk bergerak?

Hujan berhenti. Langit yang tadi gelap perlahan terbuka—awan-awan bergeser, dan sinar matahari sore mulai menerobos dari celah-celah awan.

Lail berdiri, hendak pamit pulang. Tapi matanya tertahan pada pemandangan di luar.

Langit... indah sekali.



Warna jingga keemasan di sebelah barat, biru muda pucat di atas, ungu tipis di timur. Dan di tengah langit—pelangi. Lengkung sempurna, warnanya terang sekali setelah hujan lebat tadi.

Lail berdiri di depan jendela, terpaku.

Pak Ahmad tersenyum kecil. "Cantik ya?"

Lail mengangguk pelan, tidak mengalihkan pandangan. "Iya, Pak..."

Mereka berdua diam sejenak, menatap langit sore yang berubah warna—dari jingga menjadi oranye kemerahan, lalu ungu gelap.

Lail merasakan sesuatu di dadanya—bukan sedih, tapi juga bukan senang. Seperti... kerinduan. Tapi rindu pada apa, dia tidak tahu.

Inner voice-nya bergulir, lembut dan bingung.

Kenapa ya... aku merasa rindu, padahal aku gak tahu rindu sama apa...


SYAMS - Bandar Mahkota

Kamis sore yang sama. Syams baru keluar dari les matematika. Dia berjalan kaki pulang karena abangnya belum datang jemput—katanya lagi macet.

Syams berjalan santai, menatap langit yang mendung. Tiba-tiba hujan turun deras. Dia berlari, mencari tempat teduh, dan akhirnya masuk ke Warung Ahmad—warung langganan keluarganya.

Pak Ahmad sedang duduk di kursi lipat dekat pintu, membaca koran.

"Wah, Syams! Basah kamu?"

"Dikit aja, Pak. Gak sempet lari." Syams duduk di bangku kayu, mengelap wajahnya dengan lengan baju.

Pak Ahmad mengambil handuk dari rak, menyodorkannya. "Nih, lap dulu. Mau minum apa?"

"Teh anget aja, Pak."

Pak Ahmad menyeduh teh, lalu meletakkannya di meja. Syams menyesap pelan, menatap hujan di luar.

Hujan deras sekali. Angin kencang. Daun-daun berterbangan.

Syams menatap hapenya—ada pesan dari abangnya: "Macet parah. Nunggu ya."

Syams menghela napas panjang. Capek banget rasanya...

Inner voice-nya bergulir, lelah.

Aku pengen pulang. Pengen tidur. Tapi... kok rasanya berat ya?

Hujan berhenti. Awan bergeser, sinar matahari sore menerobos. Langit yang tadi gelap kini berubah warna—jingga, biru muda, ungu.

Syams berdiri, hendak keluar. Tapi matanya tertahan pada langit.

Pelangi. Lengkung sempurna. Warna-warna terang setelah hujan.

Dan langit... begitu indah. Jingga keemasan bercampur biru permen, seperti lukisan yang tidak mungkin ada di dunia nyata.

Syams berdiri di depan pintu warung, terpaku.

Pak Ahmad berdiri di sebelahnya, ikut menatap. "Subhanallah..."

Syams mengangguk pelan. Tidak ada kata-kata.

Mereka berdua diam—hanya menatap langit sore yang perlahan berubah dari jingga menjadi ungu gelap.

Syams merasakan sesuatu di dadanya—seperti ada yang mengembang, tapi juga menekan. Bukan sedih. Bukan senang. Seperti... kerinduan yang tidak punya nama.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan bingung.

Kenapa ya... aku merasa rindu... tapi aku gak tahu rindu sama apa...


Warung Ahmad - Perspektif Baru

Pak Ahmad menatap langit itu dengan senyum tipis. Matanya berbinar—seperti sedang melihat sesuatu yang lebih dari sekadar warna dan cahaya.

Dia berbalik, menatap Lail dan Syams yang kebetulan ada di warungnya sore itu—Lail di Sungai Raya, Syams di Bandar Mahkota. (Meski di tempat berbeda, momen ini terjadi bersamaan—hujan sore, langit indah, kerinduan yang sama.)

Pak Ahmad berbicara pelan, seperti tidak ingin mengganggu keheningan.

"Kamu tahu gak... kenapa kita suka banget lihat matahari terbenam? Kenapa kita bisa terpaku lihat langit kayak gini?"

Lail menoleh, masih berdiri di depan jendela. "Karena... indah, Pak?"

Pak Ahmad tersenyum. "Iya, indah. Tapi bukan cuma itu. Ada sesuatu yang lebih dalam."

Syams ikut menoleh, penasaran. "Apa, Pak?"

Pak Ahmad menatap langit lagi. "Kamu pernah gak... ngerasa rindu, tapi gak tahu rindu sama apa?"

Lail terdiam. Syams juga.

Pak Ahmad melanjutkan, suaranya lembut. "Kamu lagi capek, pengen pulang. Tapi pas lihat langit kayak gini... rasanya ada yang bergetar di dada. Bukan sedih, bukan senang. Kayak... kangen. Tapi kangen sama apa, kamu gak tahu."

Lail merasakan dadanya sesak. Iya... persis kayak gini rasanya...

Syams juga merasakan hal yang sama. Kenapa dia bisa tahu...

Pak Ahmad tersenyum tipis. "Itu kerinduan ruh, Nak."

Lail mengerutkan kening. "Kerinduan ruh?"

"Iya. Ruh kita... pernah ketemu Allah. Sebelum kita lahir ke dunia ini. Di alam ruh, kita semua pernah bersaksi—kita bilang, 'Engkau adalah Tuhan kami.' Dan ruh kita... kangen sama momen itu."

Syams menatap Pak Ahmad, matanya berkaca-kaca tanpa sadar.

Pak Ahmad melanjutkan, pelan tapi dalam. "Setiap kali kita lihat sesuatu yang indah—langit sore, pelangi setelah hujan, laut luas, gunung tinggi—ruh kita teringat. Dia ingat kebesaran Penciptanya. Dia ingat rumahnya yang dulu. Makanya kita merasa... hanyut. Tenggelam. Seperti ada yang menarik kita ke tempat yang jauh, tapi kita gak tahu di mana."

Lail merasakan air matanya mengumpul. Dia tidak menangis—tapi ada sesuatu yang meleleh di dadanya.

"Ruh kita kangen pulang, Nak. Tapi belum waktunya. Jadi dia cuma bisa... merasakan sekilas. Lewat momen-momen kayak gini. Lewat keindahan yang bikin kita berhenti dan lupa pada dunia sejenak."

Pak Ahmad menatap langit yang kini berubah menjadi ungu gelap, bintang pertama mulai muncul.

"Makanya, kalau kamu merasa lelah tapi gak tahu kenapa, merasa rindu tapi gak tahu pada siapa... itu tandanya ruh kamu lagi ngajak kamu inget. Inget sama Allah. Inget sama rumah asalmu."

Lail menutup matanya, merasakan angin sore yang sejuk menyapu wajahnya.

Inner voice-nya bergulir, pelan dan dalam.

Aku kangen... tapi aku gak tahu aku kangen sama apa. Ternyata... aku kangen sama Dia. Aku kangen pulang ke tempat yang belum pernah aku lihat di dunia ini, tapi ruhku ingat.

Syams menatap langit yang kini gelap. Bintang-bintang mulai banyak.

Inner voice-nya bergulir, bergetar.

Setiap kali aku lihat langit kayak gini... aku merasa kecil. Tapi gak takut. Aku merasa... tenang. Seperti ada yang bilang, "Kamu gak sendirian. Aku ada." Dan aku... kangen sama suara itu.


LAIL - Pulang

Lail berjalan pulang lewat jalan desa. Langit sudah gelap, tapi masih ada sisa warna ungu di ufuk barat. Udara dingin setelah hujan, tapi segar.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Kadang kita merasa rindu tanpa tahu pada apa. Itu bukan kerinduan biasa—itu kerinduan ruh kita pada Penciptanya. Setiap kali kita melihat keindahan alam yang membuatmu terdiam dan hanyut, itu adalah panggilan halus dari Allah: 'Ingatlah Aku. Kembalilah kepada-Ku.'"

Lail menyimpan tulisan itu, lalu menatap langit malam.

Aku akan ingat. Setiap kali aku merasa lelah, aku akan lihat langit—dan ingat bahwa aku punya Tuhan yang menungguku pulang.


SYAMS - Pulang

Syams dijemput abangnya. Di mobil, dia menatap jendela—langit malam penuh bintang.

Dia membuka Notes di hapenya, mengetik:

"Kerinduan yang paling dalam bukan pada tempat atau orang—tapi pada Allah. Ruh kita kangen pulang. Dan setiap kali kita merasa hanyut dalam keindahan alam, itu adalah ruh kita yang mengingat janji lamanya pada Penciptanya."

Syams menyimpan tulisan itu, lalu menutup matanya.

Aku kangen pulang. Tapi belum waktunya. Jadi aku akan hidup dengan baik—sampai saatnya tiba.


[End of Episode 10]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putus Asa tidak ada dalam islam

  Episode 8: Ujung dan Awal LAIL - Sungai Raya Rabu pagi, pengumuman lomba karya tulis tingkat kabupaten ditempel di papan pengumuman. Lail ikut mendaftar dua minggu lalu—menulis tentang kehidupan kampung dan sawah, hal-hal yang dia amati setiap hari. Tapi saat melihat daftar pemenang, nama Lail tidak ada. Juara 1: Khadijah, SMP Negeri 2 Bandar Mahkota. Juara 2: Aisyah, SMP Negeri 1 Sungai Raya. Juara 3: Rizki, SMP Islam Al-Ikhlas. Lail berdiri di depan papan pengumuman, menatap daftar itu lama sekali. Aisyah menang. Yang pernah bilang aku nyontek. Yang pernah pamer followers dan alat tulis. Inner voice-nya berbisik, pelan tapi tajam. Kenapa bukan aku? Aku sudah berusaha. Aku menulis dengan serius. Tapi kenapa... Dina menghampiri, menepuk bahu Lail. "Lail, gapapa. Masih ada lomba lain kok." Tapi Lail tidak menjawab. Dia berjalan ke kelas dengan langkah berat. Siang itu, di kelas, Aisyah dikelilingi teman-teman yang memuji tulisannya. "Aisyah hebat banget!...

Ketamakan itu diprogram syaitan

  Episode 4: Genggaman dan Kepalan LAIL - Sungai Raya Sabtu pagi, Lail berjalan ke pasar mingguan bersama ibunya. Pasar kecil di ujung kampung—lapak-lapak terpal, penjual berteriak menawarkan dagang, bau ikan asin bercampur buah-buahan. Ibu Lail sedang tawar-menawar sayur. Lail berdiri di sampingnya, tapi matanya melirik ke lapak sebelah—lapak aksesoris. Ikat rambut warna-warni, jepit rambut dengan hiasan bunga plastik, jilbab-jilbab motif lucu dengan harga murah. Lima ribu dapat dua, pikir Lail. Dia melangkah ke lapak itu, tangannya menyentuh ikat rambut warna pink dengan pita kecil. "Mau beli, Dik?" tanya penjualnya, ibu-ibu paruh baya dengan senyum ramah. "Boleh liat-liat dulu, Bu." Lail mengambil satu, dua, tiga ikat rambut. Semuanya lucu. Semuanya murah. Dia juga melihat jilbab segi empat motif polkadot—coklat dengan titik-titik putih kecil. Ini bagus. Cocok buat ke sekolah. Inner voice-nya berbisik pelan. Tapi aku udah punya jilbab. Masih bagus. K...

Hati hati dengan lidah yang menyampaikan

  Episode 3: Sajadah dan Mahkota LAIL - Sungai Raya Kamis sore, setelah sekolah, Lail pergi ke musholla sekolah untuk ikut kajian rutin Rohis. Musholla kecil dengan lantai semen, sajadah-sajadah lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakai. Aroma kemenyan dari rumah tetangga kadang masuk lewat jendela kayu yang tidak pernah tertutup rapat. Saat Lail tiba, Ustadzah Mariam—guru yang biasa membimbing kajian—belum datang. Yang ada hanya Khadijah, ketua Rohis, berdiri di depan dengan jilbab panjang hitam dan jubah yang sampai mata kaki. Khadijah sedang ngobrol dengan beberapa anak perempuan lain. Suaranya tegas, sedikit keras. "Jilbab yang bener itu harus syar'i," katanya sambil menunjuk ke jilbabnya sendiri. "Kalau masih keliatan leher atau rambut, itu belum bener. Masih setengah-setengah." Lail duduk di belakang, merapikan jilbab segiempat-nya. Jilbabnya sederhana—warna coklat pudar, sudah dicuci berkali-kali sampai agak tipis. Lehernya memang kadang k...