Episode 1: Pensil dan Pagar
LAIL - Sungai Raya
Pagi itu kabut masih menggantung tipis di atas sawah. Lail berjalan pelan ke sekolah, tas lusuh di punggung, sandal jepit berbunyi di jalan tanah. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi sudah cukup terang untuk melihat embun di ujung rumput.
Hari pertama semester baru, pikirnya. Semoga lebih baik dari semester kemarin.
Di gerbang sekolah, Lail melihat Aisyah—teman sekelasnya—berdiri dikelilingi beberapa anak perempuan lain. Di tangan Aisyah, satu set alat tulis lengkap dalam kotak plastik transparan. Warna-warni. Rapi. Masih berbau toko.
"Ini beli di kota waktu lebaran kemarin," kata Aisyah, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. "Ayah beliin yang mahal. Yang biasa-biasa mah udah banyak."
Lail mendekat, tersenyum. "Bagus, Syah."
"Punya kamu mana? Masih pake yang tahun lalu?" Aisyah tidak menatap Lail saat bertanya. Matanya ke arah anak-anak lain yang sedang mengamati alat tulisnya.
Lail membuka tasnya pelan. Pensilnya hanya tiga batang. Satu sudah pendek. Penghapus sudah menghitam di satu sisi. Bolpoin hitam dan biru, keduanya bekas—dari kakaknya yang sudah SMA.
"Masih bisa dipake kok," kata Lail lembut.
Aisyah melirik sekilas, lalu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum yang berbatas. "Ya udah, yuk masuk."
Siang itu, saat istirahat, Lail duduk sendiri di tepi kelas. Dia membuka buku tulisnya, menatap halaman kosong.
Kenapa aku merasa… kecil?
Inner voice-nya mulai bergulir, pelan tapi jelas.
Barangku masih bagus. Masih bisa nulis. Tapi kenapa rasanya… seperti aku kurang? Apa karena tidak baru? Apa karena tidak warna-warni seperti punya Aisyah?
Lail menatap pensilnya yang pendek. Dia ingat pensil ini sudah menemaninya sejak kelas 7. Sudah menulis banyak hal. Jawaban ujian. Catatan harian. Doa-doa kecil di pinggir buku.
Apakah aku iri?
Pertanyaan itu mengambang seperti kabut pagi tadi.
Atau aku hanya… lelah menjadi yang sederhana?
Sore harinya, Lail berjalan ke Warung Ahmad di perbatasan Sungai Raya dan Bandar Mahkota. Warung kecil dengan atap seng, menjual macam-macam—dari mie instan sampai alat tulis. Lail sering ke sana kalau perlu beli sesuatu, karena lebih murah daripada toko di pasar.
Pak Ahmad sedang duduk di belakang kasir, sambil membetulkan kopiahnya dia membaca koran lama.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Lail.
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa, Lail?"
"Pensil, Pak. Yang murah aja."
Pak Ahmad bangkit, mengambil pensil dari toples plastik. "Ini yang biasa. Lima ratus."
Lail mengambilnya, merasakan bobotnya. Ringan. Kayu. Sederhana.
Pak Ahmad menatap Lail sebentar, lalu berkata dengan nada datar, "Pensil mahal atau murah, tetap habis kalau dipake terus."
Lail terdiam.
Pak Ahmad melanjutkan menghitung uang recehan di laci. "Yang penting dipake buat nulis apa."
Lail berjalan pulang lewat sawah, pensil baru di tangan. Langit sudah oranye. Angin sore menyapu rambut panjangnya.
Pensil mahal atau murah, tetap habis kalau dipake terus.
Inner voice-nya kembali.
Aisyah bangga dengan alat tulisnya. Tapi apa dia bangga dengan tulisannya? Apa yang dia tulis lebih baik dari yang aku tulis?
Lail tersenyum kecil. Bukan senyum menang. Senyum paham.
Aku bukan pensilku. Aku bukan barang yang kubawa.
Dia berhenti sejenak di tengah jalan, menatap matahari yang hampir tenggelam.
Aku adalah apa yang kutuliskan.
SYAMS - Bandar Mahkota
Pagi itu Syams bangun dengan suara klakson mobil tetangga. Dari jendela kamarnya di lantai dua, dia bisa melihat jalanan Bandar Mahkota yang sempit, dijepit rumah-rumah dua lantai dengan pagar besi tinggi. Semua rumah seperti bersaing—siapa yang paling megah, siapa yang paling baru dicat, siapa yang punya mobil paling banyak.
Syams menatap keluar dengan wajah datar.
Hari pertama semester baru. Lagi.
Dia turun ke ruang makan. Ibunya sedang menyiapkan sarapan—roti dan susu kotak.
"Syams, kamu sudah siap-siap barang sekolahnya?" tanya ibunya tanpa menoleh, sibuk memotong roti.
"Udah, Ma."
"Alat tulisnya masih yang tahun lalu kan? Ibu belum sempat beli yang baru."
Syams diam sebentar. "Gapapa, Ma."
Tapi dalam hatinya, ada yang berbeda.
Di sekolah, kelas Syams ramai sejak pagi. Anak-anak pamer barang baru—tas, sepatu, alat tulis. Ada yang bawa kotak pensil mekanik branded dengan logo terkenal. Ada yang punya stabilo set lengkap dengan case kulit sintetis.
Rizky—anak yang rumahnya paling besar di komplek—duduk di depan, mengeluarkan satu per satu isi tasnya dengan gerakan teatrikal.
"Ini beli di mall Grand City," katanya ke anak-anak yang mengerumuninya. "Yang limited edition. Cuma ada sepuluh di Indonesia."
Syams duduk di kursi belakang, mengeluarkan alat tulisnya sendiri. Pensil mekanik biasa. Bolpoin Faster. Penghapus karet putih yang sudah agak kotor.
Barang tahun lalu, pikirnya.
Tidak ada yang salah dengan barangnya. Tapi di ruangan ini, di antara kotak-kotak pensil mewah dan stabilo impor, barang Syams terlihat… biasa saja.
Seperti aku.
Istirahat pertama, Syams ke kantin sendirian. Dia duduk di ujung meja, makan roti isi sambil menatap layar hape-nya yang retak di sudut.
Inner voice-nya berbisik, pelan tapi menusuk.
Semua orang di sini punya sesuatu untuk dibanggakan. Barang. Harta. Rumah. Orang tua mereka. Aku? Aku punya apa?
Dia melirik ke arah Rizky yang sedang tertawa keras dengan teman-temannya.
Mereka tidak lebih pintar dariku. Tapi mereka terlihat… lebih. Lebih penting. Lebih dilihat.
Syams meletakkan rotinya, tiba-tiba tidak nafsu makan.
Kenapa aku merasa kalah sebelum bertanding?
Pulang sekolah, Syams tidak langsung pulang. Dia berjalan ke arah perbatasan Bandar Mahkota, ke tempat yang lebih sepi. Ada warung kecil di sana—Warung Ahmad. Syams sering ke sana kalau ingin sendiri sebentar, beli sesuatu yang murah, atau sekedar jalan tanpa tujuan.
Dia masuk, melihat Pak Ahmad yang sedang menata barang di rak.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Syams, suaranya lelah.
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa?"
Syams berdiri di depan rak alat tulis. Matanya melihat pensil-pensil murah dalam toples. Lalu ke rak sebelahnya—pensil mekanik yang sedikit lebih mahal, tapi tidak branded.
"Pak… ada pensil yang bagus gak?"
Pak Ahmad menoleh. "Bagus gimana?"
Syams terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Yang… keliatan bagus."
Pak Ahmad menatapnya sebentar, lalu mengambil pensil mekanik dari toples. "Ini yang biasa orang beli. Sepuluh ribu. Sama aja fungsinya kayak yang mahal."
Syams mengambilnya, merasakan plastiknya yang ringan.
Pak Ahmad berkata datar, sambil kembali menata barang, "Pensil mahal atau murah, tetap habis kalau dipake terus."
Syams menatap pensil di tangannya.
Pak Ahmad melanjutkan, "Yang penting dipake buat nulis apa."
Syams berjalan pulang lewat jalan komplek yang sempit. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Rumah-rumah yang tidak bisa saling melihat. Langit sore kelabu, belum hujan tapi sudah gelap.
Dia menggenggam pensil murah di tangannya.
Pensil mahal atau murah, tetap habis kalau dipake terus.
Inner voice-nya kembali berbicara.
Rizky bangga dengan alat tulisnya yang limited edition. Tapi apa dia bangga dengan tulisannya? Apa yang dia tulis lebih baik dari yang aku tulis?
Syams berhenti di depan rumahnya. Pagar besi sederhana, cat sudah mulai pudar.
Aku bukan pensilku. Aku bukan barang yang kubawa.
Dia menatap pensil murah di tangannya.
Aku adalah apa yang kutuliskan.
Untuk pertama kalinya hari itu, Syams tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum pahit yang paham.
Mungkin itu yang harus kubuktikan.

Komentar
Posting Komentar