Episode 2: Cermin dan Layar
LAIL - Sungai Raya
Sore itu Lail duduk di teras rumahnya, menunggu maghrib. Dari sini dia bisa melihat jalan kampung yang sepi—hanya sesekali ada motor lewat atau anak-anak pulang mengaji. Langit masih terang, tapi matahari sudah mulai condong ke barat.
Hape-nya berbunyi. Notifikasi WhatsApp dari grup kelas.
Dia membuka.
Foto Aisyah. Selfie dengan angle tinggi, filter cerah, bibir sedikit maju. Caption: "Alhamdulillah 200 followers 🤍✨ Makasih ya teman-teman yang udah follow 🥰"
Di bawahnya, komentar-komentar mulai berdatangan.
"Cantik kak Aisyah 😍"
"MasyaAllah tabarakallah ❤️"
"Glowing banget 😭"
Lail menatap layar hapenya. Dia scroll ke atas—foto-foto lain dari Aisyah. Semua dengan pose yang sama. Angle yang sama. Filter yang sama.
Dua ratus followers.
Lail membuka Instagram-nya sendiri. Tiga puluh dua followers. Kebanyakan keluarga dan teman-teman dekat. Foto profilnya: foto pas dari rapor semester lalu. Sederhana. Tidak ada filter.
Inner voice-nya mulai berbisik.
Kenapa dia bisa dapet segitu banyak? Apa karena dia… cantik?
Lail menatap refleksi wajahnya di layar hape yang gelap. Kulitnya sawo matang—bukan putih seperti Aisyah. Matanya kecil. Bibirnya tipis. Rambutnya ikal dan sedikit mengembang karena udara lembab.
Apa lah aku ini ?
Keesokan harinya di sekolah, Lail melihat Aisyah dikerumuni teman-teman di kantin. Mereka sedang minta difoto bareng. Aisyah tertawa, posing dengan mudah—seperti dia sudah terbiasa.
"Aisyah, ajarin dong cara foto biar bagus," kata salah satu anak perempuan.
"Gampang," jawab Aisyah sambil memegang hapenya tinggi-tinggi. "Angle harus dari atas, terus pake filter ini. Langsung glowing."
Lail duduk agak jauh, makan nasi bungkusnya sendiri. Dia menatap mereka dari kejauhan.
Apa aku terlihat…? Membosankan?
Dia mengeluarkan hapenya, membuka kamera depan. Mencoba angle dari atas seperti Aisyah. Tapi entah kenapa, wajahnya terlihat aneh. Tidak natural. Dagu terlalu lancip. Jidat terlalu lebar.
Dia mematikan kamera.
Mungkin aku memang bukan tipe orang yang cantik difoto.
Sore harinya, Lail berjalan ke Warung Ahmad. Udara masih panas, tapi angin sore mulai bertiup pelan. Dia butuh beli pulpen—punyanya habis tintanya.
Pak Ahmad sedang menyapu lantai warung saat Lail tiba.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa, Lail?"
"Pulpen, Pak."
Pak Ahmad mengambil pulpen dari toples. "Ini yang biasa. Tiga ribu."
Lail mengambilnya, tapi tidak langsung pergi. Dia berdiri di depan kasir, menatap etalase kaca yang memantulkan wajahnya samar-samar.
Pak Ahmad melirik. "Kenapa? Ada yang salah?"
Lail menggeleng pelan. "Enggak, Pak. Cuma… lagi mikir."
Pak Ahmad kembali menyapu, lalu berkata tanpa menatap Lail, "Haha cermin itu fungsinya untuk lihat luar. Bukan isi. Pakai kertas dong cek pulpen nya"
Lail menoleh. "Pak Ahmad salah mengira"
Pak Ahmad berhenti menyapu sebentar.
Lalu dia melanjutkan menyapu tanpa bilang apa-apa.
Lail berjalan pulang lewat jalan setapak yang membelah sawah. Langit sudah oranye kemerahan. Katak-katak mulai bersuara. Angin sore menggerakkan padi yang mulai menguning.
Cermin itu cuma nunjukin kulit. Bukan isi.
Inner voice-nya bergulir lembut.
Aisyah punya dua ratus followers karena wajahnya. Tapi apa yang dia punya di dalam? Apa yang dia tulis? Apa yang dia pikirkan?
Lail berhenti di tengah jalan, menatap hamparan sawah yang luas.
Dia mengeluarkan hapenya, membuka Instagram. Menatap angka tiga puluh dua followers-nya.
Ini orang-orang yang kenal aku. Yang tahu aku suka nulis. Yang tahu aku suka ngelamun di sawah. Yang tahu aku takut ulat tapi sayang sama kucing.
Lail tersenyum kecil.
Aku bukan wajahku. Aku bukan aku di layar.
Dia menutup Instagram, lalu membuka Notes. Mengetik sesuatu yang baru saja terlintas:
"Cantik itu bukan dari cermin. Cantik itu dari bagaimana kamu membuat orang lain merasa dilihat."
Lail menyimpan tulisan itu, lalu melanjutkan jalan pulang dengan langkah lebih ringan.
SYAMS - Bandar Mahkota
Pagi itu Syams terbangun karena notifikasi bertubi-tubi. Dia meraih hapenya dengan mata setengah terbuka.
Instagram. Semua dari Haikal—teman sekelasnya.
Post baru. Foto Haikal dengan hoodie branded, di depan kaca, pose cool, pencahayaan sempurna. Caption: "Grateful 🙏 10K followers Alhamdulillah"
Sepuluh ribu.
Syams menatap layar. Likes-nya sudah tembus 800 dalam satu jam. Komentar penuh emoji api dan pujian.
"Keren bang 🔥"
"Ganteng bett cuy"
"Influencer nih 😎"
Syams scroll ke akun Haikal. Feed-nya rapih—semua foto aesthetic, warna-warna matching, pose yang dilatih. Seperti katalog.
Syams keluar dari akun Haikal, lalu membuka profilnya sendiri.
Seratus dua puluh followers. Foto profil: foto candid saat study tour tahun lalu—wajahnya biasa saja, tidak senyum, rambutnya berantakan kena angin.
Feed-nya kosong. Tidak ada postingan sama sekali.
Aku bahkan tidak pernah post apa-apa.
Di sekolah, Haikal jadi pusat perhatian sejak pagi. Anak-anak mengerumuni mejanya, nanya tips foto, nanya gimana caranya dapet followers banyak.
"Konsisten aja," jawab Haikal dengan santai. "Post rutin, pake hashtag yang bener, terus engage sama followers. Gampang kok."
Syams duduk di kursi belakang, menatap mereka dari kejauhan.
Gampang katanya.
Inner voice-nya mulai berbicara, dingin dan tajam.
Haikal ganteng. Itu sebabnya dia punya followers banyak. Wajahnya. Bukan karena dia pinter. Bukan karena dia baik. Cuma karena genetik.
Syams menatap refleksi wajahnya di layar hape yang mati. Wajahnya biasa. Tidak ada yang istimewa. Hidungnya pesek. Matanya kecil. Kulitnya pucat karena jarang kena matahari—selalu di dalam ruangan.
Aku tidak punya modal itu.
Dia melirik ke Haikal yang sedang tertawa, dikelilingi orang-orang.
Dia terlihat… penting. Dihargai. Aku? Aku invisible.
Pulang sekolah, Syams tidak langsung pulang. Dia berjalan ke arah perbatasan lagi, ke Warung Ahmad. Langit mendung, seperti mau hujan.
Dia masuk ke warung. Pak Ahmad sedang melipat kardus-kardus bekas.
"Assalamualaikum, Pak."
"Wa'alaikumsalam. Mau beli apa?"
Syams berdiri di depan rak, tapi dia tidak tahu mau beli apa. Dia hanya ingin… berada di tempat yang tidak ada siapa-siapa.
"Gak jadi beli, Pak. Cuma… liat liat."
Pak Ahmad mengangguk, tidak peduli. Dia melanjutkan lipat kardus.
Syams berdiri di depan etalase kaca, menatap refleksinya. Wajahnya samar di kaca yang sedikit berdebu.
Kenapa orang-orang peduli sama wajah? Kenapa itu jadi ukuran?
Pak Ahmad tiba-tiba berkata tanpa menoleh, "Maaf ya cermin nya berdebu, wajahmu jadi kusem ya."
Syams tersentak. Dia menatap Pak Ahmad.
Pak Ahmad melanjutkan melipat kardus. "Namanya juga sibuk."
Syams berjalan pulang lewat jalan komplek yang sempit. Pagar-pagar tinggi di kiri kanan. Langit sudah gelap, gerimis mulai turun.
Cermin itu tidak murni menampilkan diri kita yang sebenarnya..
Inner voice-nya bergulir, pelan tapi menusuk.
Haikal punya sepuluh ribu followers karena wajahnya. Tapi apa yang dia punya di dalam? Apa yang ada didalam pikirannya? Apa yang dihatinya?
Syams berhenti di depan rumahnya, membiarkan gerimis membasahi rambutnya.
Aku tidak butuh sepuluh ribu orang yang suka wajahku. Karena aku bahkan tidak suka wajahku sendiri.
Dia menatap hapenya. Instagram masih terbuka di feed Haikal.
Hanya aku yang tahu isi hatiku, siapa aku? aku sendiri yang membentuknya.
Syams menutup Instagram. Dia membuka Notes, menatang layar kosong.
Lalu mengetik pelan:
"Mungkin aku tidak perlu dilihat banyak orang. Mungkin aku hanya perlu… terlihat oleh diriku sendiri dulu."
Dia menyimpan tulisan itu, lalu masuk ke rumah dengan perasaan sedikit lebih ringan.
Aku bukan wajahku. Aku bukan angka di layar.
Tapi berbeda dengan Lail, Syams tidak tersenyum. Dia hanya… menerima.
[End of Episode 2]
.png)
Komentar
Posting Komentar